jpnn.com, SEMARANG - Proses pemulihan trauma terus dilakukan terhadap seorang murid korban perundungan oleh kakak kelasnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang Eko Krisnarto menyebut tim psikolog dikerahkan untuk membantu proses pemulihan korban.
BACA JUGA: Viral Perundungan Anak di Taman Bermain Jakarta, Begini Reaksi Cornelia Agatha
"Kami fokus mendampingi korban sampai pulih secara psikologis dan bisa kembali bersekolah dengan nyaman. Saat ini yang menjadi perhatian adalah pemulihan traumanya," ujar Eko, Senin (22/6).
Menurut Eko, perundungan yang dialami korban bermula pada persoalan saling ejek antarmurid.
BACA JUGA: Dedi Mulyadi Tanggung Biaya Pengobatan Korban Penyiksaan Pacar di Bandung
"Namun, situasi berkembang hingga terjadi kekerasan fisik yang akhirnya menimbulkan trauma pada korban," katanya.
Meski kondisi fisiknya mulai membaik, korban masih mengalami trauma akibat peristiwa yang membuat sejumlah bagian tubuhnya terluka.
BACA JUGA: Pelaku Penyiksaan Sadis Wanita di Kabupaten Bandung Masih Berkeliaran, Polda Jabar Terus Memburu
"Kalau dia (korban, red) mau ke WC itu masih ingat (peristiwa perundungan, red). Itu wajar, tetapi tetap kami dampingi terus sampai kondisi psikologisnya benar-benar pulih," kata Eko.
Pihaknya memiliki sejumlah psikolog klinis yang menangani berbagai kasus kekerasan terhadap anak maupun perempuan. Pendampingan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan kondisi korban.
"Ada psikolog rumah tangga, ada yang khusus psikolog anak-anak. Tujuannya agar korban tidak mengalami trauma berkepanjangan," ujarnya.
Untuk diketahui, seorang murid SMP di Kota Semarang, Jawa Tengah diduga mengalami perundungan berujung luka fisik pada tubuhnya. Perundungan berupa pengeroyokan itu dilakukan oleh tiga kakak kelas korban di toilet sekolah.
Kasus ini diungkapkan oleh ibunda korban, Ristia. Dia menyebut bahwa anaknya yang berinisial KA menderita luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Mengalami luka memar dan membiru di sekujur tubuhnya, lebih dari delapan titik luka dari kepala, wajah, dada, kanan dan kiri, perut, kaki dan tangan," kata Ristia tak kuasa menahan tangis ketika mengungkapkan kepada sejumlah Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Fraksi PDIP, Rabu (17/6).(ink/jpnn)
Redaktur : Yessy Artada
Reporter : Wisnu Indra Kusuma




