Kesepakatan perjanjian damai awal antara Iran dan Amerika Serikat yang baru saja dibahas di Bürgenstock, Swiss, kini menghadapi jalan terjal. Di tengah ancaman tidak konsistennya sikap Presiden Donald Trump dan masih gencarnya agresi militer zionis Israel ke Lebanon Selatan, masa depan perdamaian permanen kedua negara tersebut berada di titik krusial yang rentan mengalami keretakan.
Wakil Menteri Luar Negeri RI periode 2019–2022 sekaligus pakar geopolitik, Mahendra Siregar, memberikan analisis mendalam mengenai dinamika rentannya implementasi Memorandum of Understanding (MoU) tersebut. Menurutnya, meski perundingan di Swiss masih terus berlanjut, bayang-bayang sabotase dari pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian di Timur Tengah sangatlah besar.
"Sejauh ini saya mendengar bahwa perundingan masih berlanjut, tapi memang banyak pihak yang belum tentu sepakat dengan proses perundingan itu sendiri berjalan dengan lancar dan mungkin memiliki kepentingan berbeda, termasuk mereka yang mungkin ingin melihatnya gagal dan sedikit banyak mungkin melakukan sabotase juga untuk melihat perundingan ini gagal," ujar Mahendra Siregar dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Senin 22 Juni 2026.
Baca Juga :
Qatar dan Pakistan Umumkan Komite Pengawas Khusus Implementasi MoU AS-IranMenanggapi penilaian publik mengenai proses kesepakatan yang terbilang berjalan cukup kilat, Mahendra meluruskan bahwa pencapaian di Bürgenstock belum menjadi hasil akhir yang mengikat secara mutlak. Dokumen yang disetujui oleh Washington dan Teheran baru sebatas platform kerja untuk memulai negosiasi yang sesungguhnya.
"Saya rasa perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat ya, bahwa yang sudah disepakati kedua belah pihak itu adalah butir-butir yang ada dalam MOU itu yaitu 14 sebagai kerangka dasar atau platform bagi perundingan dimulai untuk dilakukan. Jadi belum ada kesepakatan sama sekali terhadap 14 butir tadi itu yang justru baru mau dibahas sekarang. Sehingga nanti kita lihat dalam 60 hari ke depan apakah ada progres yang baik dari 14 butir itu atau memerlukan waktu lebih panjang atau malah sebaliknya menghambat," jelasnya.
Aksi Boikot Sesi Foto Delegasi Iran Dinilai Wajar
Sorotan tajam dunia internasional juga tertuju pada sikap delegasi Iran yang memilih langsung meninggalkan lokasi dan menolak ikut dalam sesi foto bersama dengan delegasi Amerika Serikat. Sikap dingin Teheran ini dinilai sebagai sinyal protes keras atas situasi riil di lapangan di mana sekutu terdekat AS, Israel, masih terus menggempur Lebanon Selatan.
Mahendra menilai mundurnya Iran dari sesi formalitas tersebut merupakan langkah politik yang wajar dan dapat dipahami. Iran tidak ingin proses yang penuh risiko dan tantangan nyata ini dipolitisasi sebagai sebuah keberhasilan instan di depan kamera, sementara eskalasi senjata di Lebanon masih terus memakan korban jiwa.
Satu-satunya kunci agar perundingan fase lanjutan ini tidak berhenti di tengah jalan adalah kemampuan Washington dalam mengendalikan sekutu utamanya, Israel. Jika Amerika Serikat membiarkan agresi militer di Lebanon Selatan terus membara, maka peluang pecahnya kembali konflik skala besar di Timur Tengah terbuka lebar.
"Saya tidak melihat Amerika memiliki opsi lain ya kecuali menekan Israel untuk tidak melanjutkan serangannya ke Lebanon, sehingga perundingan dapat berjalan dengan lancar. Sebab kalau Amerika tidak melakukan hal itu dan Iran keluar dari proses perundingan, maka tentu saja ketegangan akan kembali meningkat di sana ya dan jalur (Selat Hormuz) harus kembali ditutup," ucap Mahendra.




