Ruang Sosial Trotoar Jakarta

kompas.id
15 jam lalu
Cover Berita

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pekerja informal di Jakarta terus meningkat bersamaan dengan pembangunan infrastruktur. Di tengah perkembangan tersebut, pengemudi ojek daring (ojol) dan pedagang kopi keliling (starling) hadir sebagai komunitas yang mengisi ruang kota setiap hari. Dari trotoar, pelataran stasiun, hingga sudut kawasan perkantoran, keduanya membentuk ruang sosial yang tumbuh secara organik dan menjadi bagian dari denyut kehidupan Jakarta.

Hampir setiap pagi, terlihat puluhan pengemudi ojol berkumpul di sekitar stasiun kereta api. Sebagian memeriksa aplikasi di telepon genggam, sebagian lain berbincang mengenai kondisi lalu lintas, atau sekadar berbasa basi. Tidak jauh dari mereka, berberapa pedagang starling menyiapkan air dari termos, kopi saset, dan gelas plastik untuk melayani para pembeli, yang barangkali sudah menjadi langganan tetapnya.

Pemandangan itu bisa jadi sudah lumrah di benak warga Jakarta dan sudah menjadi bagian dalam gerak kehidupan khas urban. Padahal, kehadiran komunitas-komunitas tersebut memberikan perubahan yang lebih besar dalam struktur ekonomi dan sosial perkotaan. Ruang publik Jakarta bertumbuh kelompok pekerja yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada ruang-ruang yang dapat diakses masyarakat.

Menjelang 500 tahun usia Jakarta, kota ini mengalami transformasi fisik yang kian maju dari dekade ke dekade. Dalam satu dekade terakhir, jalur MRT dan LRT mulai beroperasi, trotoar diperluas, kawasan transit ditata ulang, serta berbagai taman kota dibangun untuk memperluas ruang publik warga.

Jika dicermati, struktur ketenagakerjaan Jakarta pun menunjukkan perkembangan yang menarik. Data ketenagakerjaan memperlihatkan jumlah pekerja informal di Jakarta meningkat dari sekitar 1,55 juta orang pada 2020 menjadi sekitar 1,85 juta orang dalam kurun tiga tahun setelahnya. Kenaikan sekitar 300.000 pekerja dalam lima tahun menunjukkan sektor informal tetap menjadi salah satu penyangga utama ekonomi perkotaan.

Perkembangan tersebut terjadi ketika ekonomi digital (gig economy) berkembang pesat dengan berbagai platform berbasis aplikasi yang membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja dan usaha. Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi ekonomi dan pertumbuhan sektor informal berlangsung secara bersamaan. Sudah tentu, perubahan teknologi menghadirkan bentuk-bentuk pekerjaan baru yang memiliki karakter fleksibel dan mudah diakses.

Dari sekitar 1,88 juta pekerja informal Jakarta pada 2025, sebagian bekerja dalam ekosistem ekonomi digital seperti pengemudi ojol dan kurir berbasis aplikasi. Secara nasional, dalam waktu lima tahun sejak 2020, jumlah pengemudi ojol dari yang terdaftar di berbagai platform kemitraan kian bertambah, dari sekitar 2 juta hingga 3,1 juta pada 2025. Kehadiran ojol tersebar di hampir seluruh simpul mobilitas perkotaan.

Perubahan yang sama juga terlihat pada sektor UMKM yang sebagian besar berkembang melalui kedekatan dengan konsumen dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat perkotaan yang terus berubah. Di antara kelompok tersebut, terdapat pedagang starling yang menjadi bagian dari kehidupan kota selama bertahun-tahun. Lantas, bagaimana ini semua memengaruhi kehidupan sosial Jakarta?

Komunitas organik

Trotoar, area pintu masuk keluar stasiun, dan sekitar halte pada dasarnya merupakan infrastruktur yang dirancang untuk mendukung aktivitas mobilitas masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut tetap berjalan hingga hari ini. Namun, penggunaan ruang oleh masyarakat turut menghadirkan fungsi-fungsi tambahan yang berkembang secara alami.

Di berbagai titik Jakarta, pengemudi ojol berkumpul sambil menunggu pesanan berikutnya. Waktu tunggu yang bisa berlangsung hingga puluhan menit menciptakan kesempatan untuk menjadi relasi sosial yang alami, seperti berbincang dan bertukar informasi.

Tidak jauh dari lokasi yang sama, pedagang starling melayani pelanggan yang datang silih berganti. Sebagian pelanggan menyeruput kopi sebelum berangkat ke lokasi bekerja. Sedangkan, sebagian lainnya datang untuk beristirahat sejenak di sela aktivitas yang padat.

Interaksi tersebut berlangsung dalam ruang yang sederhana, tidak ada struktur organisasi saklek yang mengatur pertemuan mereka. Namun, kehidupan sosial tumbuh melalui rutinitas yang terus berulang. Orang-orang yang sama hadir setiap hari pada waktu yang relatif sama pula.

Dalam kohesi sosial, pola hubungan yang terbentuk melampaui kepentingan transaksional ekonomi. Selain itu, jaringan informal semacam itu menjadi modal sosial yang penting dalam kehidupan perkotaan. Akhirnya ini memengaruhi kepercayaan antarwarga yang tumbuh melalui perjumpaan berulang dan solidaritas muncul berdasarkan pengalaman menghadapi tantangan yang relatif sama setiap hari.

Fenomena tersebut turut sejalan dengan gagasan Ray Oldenburg mengenai third place dalam jurnal “Understanding the Relationship between Urban Public Space and Social Cohesion: A Systematic Review" (2014). Oldenburg menegaskan, masyarakat kota membutuhkan ruang aktivitas di luar tempat tinggalnya untuk membangun hubungan sosial sehari-hari. Ruang itu menjadi tempat berlangsungnya percakapan, pertukaran pengalaman, dan pembentukan rasa kebersamaan dalam kehidupan perkotaan.

Jika konsep tersebut diterapkan pada konteks Jakarta, fungsi third place sering muncul di ruang-ruang yang tidak dirancang secara formal sebagai tempat berkumpul. Kondisi tersebut menjadi penting dalam kota sebesar Jakarta.

Jakarta memiliki populasi lebih dari 11 juta penduduk dan kawasan metropolitan yang mencapai puluhan juta jiwa. Sehingga, kehidupan perkotaan pun cenderung bergerak dalam ritme yang cepat dan anonim. Akhirnya, banyak interaksi berlangsung singkat dan berorientasi pada tujuan praktis.

Baca JugaRuang Publik Jakarta Butuh Peran Aktif Warga

Lebih lanjut, Hesam Kamalipour dan Nastaran Peimani turut membahas batas antara ruang ekonomi dan ruang sosial sering kali sangat tipis. Gagasan tersebut berangkat dari penelitian dalam jurnal “Negotiating Space and Visibility: Forms of Informality in Public Space” (2019).

Singkatnya, aktivitas perdagangan jalanan berfungsi sebagai lahan penghidupan sekaligus sebagai sarana membangun hubungan sosial. Kehadiran pedagang dan pekerja informal membantu menciptakan visibilitas, rasa aman, dan kontinuitas aktivitas warga kota dalam ruang publik.

Dapat dikatakan, denyut kehidupan Jakarta muncul dari jutaan interaksi kecil yang berlangsung setiap hari di ruang publik. Melalui aktivitas yang tampak sederhana itulah ruang publik memperoleh makna sosial yang membuat Jakarta terus hidup.

Tumbuh dari bawah

Selama ini perkembangan Jakarta sering dibaca perkembangan infrastruktur fisik yang makin membuat wajah kota tertata. Begitu juga dengan ikhtiar meningkatkan peringkat Kota Global melalui berbagai macam muatan angka indeksnya. Perubahan tersebut memang membentuk wajah Jakarta yang tampak dari luar, tetapi bisa jadi itu semua kurang melibatkan komunitas warga di dalamnya.

Sosiolog Perancis, Henri Lefebvre, yang memperkenalkan gagasan ”Right to the City” dalam bukunya, Le Droit a la Ville (1968), menegaskan, kota bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang sosial yang harus dimiliki, dialami, dan dibentuk bersama oleh seluruh warganya. Konsep ”Right to the City” dapat menjadi dasar bagi pembangunan Jakarta yang sedang menuju kota global dengan mengikutsertakan warganya sebagai subyek untuk membangun kota yang layak huni, demokratis, dan adil.

Baca JugaKomunitas Hidupkan Ruang Publik Jakarta

Pengalaman Jakarta menunjukkan bahwa kehidupan ruang publik berkembang melalui proses yang lebih luas. Aktivitas masyarakat memberi makna pada ruang, bahkan di sudut-sudutnya yang tersedia. Hubungan sosial yang tumbuh dari penggunaan sehari-hari membentuk identitas yang khas pada berbagai sisi wajah kota.

Proses tersebut menunjukkan bahwa Jakarta sedang mengalami placemaking dari bawah. Identitas ruang tidak hanya dibentuk melalui perencanaan dan pembangunan fisik. Identitas itu juga tumbuh dari pengalaman kolektif yang dihasilkan oleh warga kota yang membuatnya terus hidup dan terus bergerak. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNPB Kebut Pemulihan Sumatera Pascabencana, Pembangunan Huntara Sudah 99,9%
• 21 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Kaget Banyak Kekayaan Negara Hilang: Anggaplah Ini Kelalaian Bersama
• 3 jam laludetik.com
thumb
Revisi UU Polri Resmi Berlaku, Perkap Segera Disesuaikan
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Mengapa Pintar secara Akademik Saja Tidak Cukup untuk Bekal Hidup?
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Rosan: Hotel Sultan bakal dirobohkan jadi ikon baru Indonesia
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.