Oleh Aliefia Nada Malik, Jurnalis KompasTV
“Silent Killer” Udara Jakarta
Udara Jakarta hampir tidak pernah benar-benar bersih. Berdasarkan indeks IQAir, kualitas udara Ibu Kota kerap masuk kategori tidak sehat. Emisi kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar, mencakup 32 hingga 57 persen dari total pencemaran.
Pada akhir 2025, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia dilaporkan mencapai 172,94 juta unit. Mayoritas masih berbahan bakar fosil.
Di balik angka-angka itu, ada dampak yang jauh lebih senyap. Budi Haryanto, Direktur Research Center for Climate Change Universitas Indonesia, menyebutnya sebagai silent killer.
"Selain batuk dan asma, ada gangguan pada sistem saraf pusat. Pada anak-anak, bisa mengakibatkan penurunan IQ, bahkan stunting," kata Budi.
Partikulat halus PM2,5—produk pembakaran bahan bakar fosil—bisa masuk ke paru-paru dan beredar ke organ vital melalui aliran darah. Badan Kesehatan PBB (WHO) menyebut paparan PM2,5 yang melampaui ambang batas berkontribusi signifikan terhadap kanker paru dan penyakit kardiovaskular.
Di tengah kondisi inilah, Yoab Anderson berangkat kerja setiap pagi. Dari Lippo Karawaci, ia naik Transjakarta dan berpindah tiga kali sebelum tiba di kantornya di Sunter, Jakarta Utara.
Ia memilih rute ini setelah kapok menyetir—perjalanan pulang-pergi bisa memakan waktu enam jam. Tapi, naik bus pun bukan tanpa masalah.
"Jujur, kita jalan dari busway turun di halte mau nyeberang jalan tuh sesek. Nggak enak bawaan nafasnya. Jadi gampang capek," ujarnya.
Bus Listrik: 500 Unit, Target 2030
Transpotasi umum menjadi keniscayaan bagi nadi kehidupan di kota besar. Pemerintah menargetkan elektrifikasi 90 persen armada transportasi umum nasional pada 2030. Di Ibu Kota Jakarta, menjadikan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) sebagai garda terdepan.
Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan pihaknya menargetkan 500 unit bus listrik beroperasi pada akhir April 2026. Saat ini, angka tersebut mewakili sekitar 1,4 persen dari total armada.
"Paralel, kami juga sedang melakukan uji coba untuk medium bus dan mikrotrans agar nanti juga beralih ke kendaraan listrik," kata Welfizon.
Studi Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) memperkirakan jika seluruh armada Transjakarta beralih ke listrik pada 2030, gas rumah kaca bisa turun hingga 58 persen.
Namun, perjalanan menuju 2030 tidak mudah. Welfizon mengakui kapasitas baterai bus sedang dan mikrotrans belum cukup untuk operasi penuh. Infrastruktur pengisian daya pun masih sangat terbatas.
"Ada waktu untuk dilakukan penambahan daya. Ini yang kita sebut opportunity charging—pengisian beberapa kali saat bus diistirahatkan," ujarnya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jakarta mengonfirmasi elektrifikasi transportasi umum sudah menunjukkan hasil terukur.
Penulis : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- polusi udara
- jakarta
- kendaraan bermotor
- pencemaran udara
- udara jakarta





