Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75 persen menjadi tantangan baru bagi industri perbankan dalam menjaga pertumbuhan kredit sekaligus memp
IDXChannel - Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75 persen menjadi tantangan baru bagi industri perbankan dalam menjaga pertumbuhan kredit sekaligus mempertahankan kualitas aset.
Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan dan memengaruhi kemampuan sebagian debitur dalam memenuhi kewajibannya.
Kondisi tersebut membuat bank perlu lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan serta memperkuat pengawasan terhadap risiko kredit.
Analis menilai, salah satu faktor yang dapat membantu bank menghadapi perubahan siklus suku bunga adalah struktur portofolio kredit yang tidak terlalu terkonsentrasi pada segmen tertentu.
Penyebaran pembiayaan berdasarkan sektor usaha, jenis kredit, dan mata uang dapat menjadi penyangga ketika terjadi tekanan pada kelompok debitur tertentu.
“Dalam kondisi suku bunga tinggi, bank perlu semakin selektif dalam menyalurkan kredit. Portofolio yang terdiversifikasi akan membantu bank menjaga kualitas aset, karena tekanan pada satu sektor tidak langsung memberikan dampak besar terhadap keseluruhan portofolio,” ujar seorang analis perbankan.
Dalam hal ini, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS menjadi salah satu emiten perbankan yang memiliki struktur kredit dengan eksposur yang tersebar. Portofolio kredit perseroan mencakup berbagai jenis penggunaan, mata uang, serta sektor ekonomi.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mengatakan, diversifikasi portofolio tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai ketahanan kredit bank, terutama ketika tekanan suku bunga meningkat.
Menurut dia, diversifikasi kredit dapat membantu mengurangi risiko apabila terjadi pelemahan pada sektor atau kelompok debitur tertentu.
Dengan eksposur yang lebih beragam, dampak perubahan kondisi ekonomi tidak langsung terkonsentrasi pada keseluruhan portofolio.
“BWS memiliki karakter portofolio yang cukup terdiversifikasi, baik dari sisi mata uang, jenis penggunaan kredit, maupun sektor ekonomi. Dalam situasi suku bunga yang meningkat, struktur seperti ini menjadi penting karena dapat membantu bank menjaga kualitas aset dan mengurangi konsentrasi risiko,” ujar Aditya.
Berdasarkan mata uang, penyaluran kredit BWS mencakup pembiayaan dalam rupiah dan valuta asing.
Pengelolaan eksposur tersebut menjadi perhatian di tengah pergerakan nilai tukar serta dinamika pasar keuangan global, khususnya bagi debitur dengan kebutuhan pembiayaan atau sumber pendapatan dalam valuta asing.
Dari sisi penggunaan kredit, pembiayaan BWS berasal dari beberapa segmen, mulai dari kredit modal kerja, kredit investasi, hingga kredit konsumsi. Perbedaan karakter masing-masing segmen membuat bank perlu menjaga komposisi portofolio agar risiko tetap terkendali.
Selain itu, distribusi kredit ke sejumlah sektor ekonomi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan risiko. Ketika terjadi tekanan pada sektor tertentu, bank dengan portofolio yang lebih tersebar memiliki peluang lebih besar untuk menjaga stabilitas kualitas kredit.
Aditya menilai, kondisi suku bunga tinggi membuat aspek kehati-hatian dalam ekspansi kredit menjadi semakin penting. Bank tidak hanya dituntut menjaga pertumbuhan penyaluran kredit, tetapi juga memastikan kualitas debitur tetap terjaga.
“Bank yang menjaga keseimbangan antara kredit produktif, kredit konsumsi, eksposur sektor usaha, dan profil mata uang akan memiliki fleksibilitas lebih baik dalam menghadapi perubahan siklus suku bunga. Kuncinya tetap pada selektivitas kredit dan monitoring kualitas debitur,” ujar Aditya. (Aldo Fernando)





