Mengapa Perempuan Berpendidikan Masih Sering Dianggap 'Sia-sia'?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Di kampungku, perempuan tidak selalu benar. Terlalu diam dianggap sombong, terlalu berisik disebut pembangkang." Kalimat pembuka dari cerpen Perempuan yang Terbungkam karya Nazia Syauqilla di Harian Kompas ini rasanya bukan cuma fiksi belaka. Bagi banyak anak perempuan di Indonesia, kutipan itu adalah tamparan keras yang nyata, yang mungkin mereka dengar hampir setiap hari di lingkungan rumah mereka sendiri.

Dalam cerpennya, Nazia memotret sebuah ironi yang bikin dahi mengernyit. Ada seorang anak gadis yang baru saja keterima di SMA unggulan. Alih-alih dirayakan dengan syukur, pencapaian itu malah disambut kalimat dingin dari bapak-bapak yang lagi nongkrong di teras rumah: "Sekolah di tempat bagus untuk apa? Kan, nanti juga bakal gitu-gitu aja."

Cemoohan santai di teras rumah ini sebenarnya merekam sesuatu yang besar: betapa tebalnya tembok patriarki di masyarakat kita. Ada semacam dogma yang terus diulang-ulang dari ruang tamu sampai ke dapur, bahwa setinggi apa pun mimpi seorang perempuan, ujung-ujungnya mereka akan "dikembalikan" ke domestik mengurus dapur, mencium bau bawang, dan mendengarkan tangis bayi. Pendidikan tinggi seolah-olah cuma investasi yang sia-sia kalau ujungnya menjadi ibu rumah tangga.

Bukan Sekadar Cerita, Ini Angka Riil

Skeptisisme komunal yang dialami tokoh utama dalam cerpen tersebut sayangnya bukan sekadar drama rekaan penulis. Kalau kita mau membedah data riil di lapangan, sastra ini sedang bicara jujur tentang struktur sosial kita sekarang. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), ketimpangan gender kita masih sangat lebar. Angka partisipasi kerja laki-laki jauh melampaui perempuan yang sering kali tertahan di angka paruh baya.

Banyak perempuan usia produktif yang akhirnya tidak terserap di dunia kerja bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena "ditahan" oleh ekspektasi lingkungan. Sejak kecil, anak perempuan kerap dididik untuk menjadi sosok penurut yang mengalah demi saudaranya, menghemat biaya untuk adiknya, atau sekadar membantu ibu di rumah. Sementara anak laki-laki sejak awal sudah diposisikan untuk menerima fasilitas terbaik karena dianggap sebagai masa depan keluarga.

Kondisi ini sejalan dengan apa yang pernah dibahas oleh sosiolog Julia Cleves Mosse dalam teorinya soal domestifikasi paksa (domesticity). Mosse menjelaskan kalau masyarakat patriarki punya cara halus untuk mengeiri potensi perempuan, yaitu dengan membungkus peran domestik sebagai satu-satunya "kodrat" dan adab kesopanan. Perempuan yang keluar dari jalur itu sering kali langsung diberi label pemberontak atau tidak tahu adat.

Gugatan Sunyi dari Balik Kamar

Namun, bagian paling menarik dari cerpen ini adalah bagaimana si tokoh utama menolak untuk menyerah pada keadaan. Di tengah keheningan malam setelah para tamu pulang, dia melakukan perlawanan lewat cara yang sangat modern: membuka gawai dan mencari tahu tentang "isu perempuan" di internet. Di sinilah titik balik kesadarannya dimulai. Kalimat "Aku juga bisa, aku juga layak" berubah menjadi mantra perlawanan sunyi di kamarnya.

Di zaman sekarang, ketika kita sering mendengar pidato-pidato keren soal kesetaraan gender di panggung seminar atau ruang sidang besar, cerpen Nazia Syauqilla ini justru mengingatkan kita pada realitas yang lebih membumi. Perjuangan emansipasi itu medan tempurnya yang paling berat bukan di sana, melainkan di dapur kita, di teras rumah kita, dan di ruang keluarga kita sendiri.

Ulasan ini sebenarnya adalah sebuah ajakan untuk merenung bersama. Sampai kapan kita mau membiarkan anak-anak perempuan di sekitar kita menyembunyikan mimpi mereka rapat-rapat di bawah bantal cuma karena takut dibilang menyalahi kodrat? Sangkar itu sudah waktunya dibuka biar mereka bisa terbang tinggi dan membuktikan kalau mereka juga sangat layak untuk maju.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Pasuruan Pastikan Efisiensi Anggaran Tak Ganggu Layanan Publik
• 20 jam laluberitajatim.com
thumb
Sekolah Swasta Semakin Diminati, Apa yang Kurang dari Sekolah Negeri?
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Wagub DKI Akui Banyak Kerja Sama ‘Sister City’ Tak Aktif, Bakal Dihidupkan Lagi
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Polusi Udara di Bandung Terburuk Pagi Ini, Warga Diimbau Pakai Masker
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bakal Dirobohkan Total! Menteri Rosan Bocorkan Nasib Hotel Sultan GBK
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.