JAKARTA, KOMPAS- Kebiasaan mengonsumsi minuman manis sejak masa kanak-kanak dapat meninggalkan dampak kesehatan hingga puluhan tahun kemudian. Penelitian terbaru menemukan bahwa anak-anak dan remaja yang terbiasa konsumsi minuman berpemanis memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi saat dewasa. Minuman soda dan minuman olahraga paling bermasalah, dan jus buah juga perlu dibatasi.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Circulation milik American Heart Association pada Senin (22/6/2026), itu melibatkan lebih dari 25.000 peserta di Amerika Serikat. Riset menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi dua porsi atau lebih minuman manis setiap hari memiliki risiko 52 persen lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi di kemudian hari dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi kurang dari tiga porsi per minggu.
Peserta penelitian diikuti hingga 25 tahun, sehingga para peneliti dapat mengamati dampak jangka panjang pola konsumsi minuman sejak usia muda. Penelitian tersebut menambah bukti bahwa kebiasaan makan dan minum pada masa kanak-kanak memainkan peran penting dalam menentukan kesehatan kardiovaskular saat dewasa. Sejumlah riset sebelumnya mengungkap kaitan konsumsi minuman manis pada risiko diabetes.
"Kebiasaan makan di awal kehidupan dapat memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang," kata penulis senior penelitian, Vasanti Malik, profesor madya di Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Temerty, University of Toronto, dalam keterangan yang menyertai laporan.
Menurut Malik, tren meningkatnya kasus hipertensi pada kelompok usia yang semakin muda membuat upaya pencegahan perlu dimulai sejak masa anak-anak. "Tekanan darah tinggi kini muncul lebih awal dalam kehidupan, termasuk pada orang dewasa muda, anak-anak, dan remaja. Ini menunjukkan pentingnya deteksi dan pencegahan dini," ujarnya.
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke. Organisasi kesehatan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa pola makan tinggi gula, rendah aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok menjadi pemicu penting meningkatnya kasus hipertensi.
Dalam penelitian tersebut, para peserta secara berkala melaporkan konsumsi berbagai jenis minuman, termasuk soda, minuman ringan berpemanis, limun, teh manis, minuman olahraga, jus buah, serta konsumsi buah utuh.
Setiap tambahan satu porsi soda per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi sebesar 23 persen.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak semua minuman manis memberikan risiko yang sama. Setiap tambahan satu porsi soda per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi sebesar 23 persen. Sementara itu, satu porsi minuman olahraga per hari berkaitan dengan peningkatan risiko hingga 36 persen.
Temuan ini memperkuat hasil berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa minuman berpemanis merupakan salah satu sumber gula tambahan yang paling berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Salah satu bukti berasal dari meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association pada 2022 oleh tim peneliti yang dipimpin John P. Drouin-Chartier dari Université Laval, Kanada.
Analisis yang menggabungkan data lebih dari 930.000 peserta dari berbagai studi kohort tersebut menemukan hubungan yang konsisten antara konsumsi minuman berpemanis dan peningkatan risiko hipertensi. Para peneliti menduga bentuk gula cair menjadi salah satu penyebab utama. Tidak seperti gula yang dikonsumsi bersama makanan padat, gula dalam minuman lebih cepat diserap tubuh dan cenderung tidak memberikan rasa kenyang, sehingga mendorong konsumsi kalori berlebih.
Selain meningkatkan berat badan, konsumsi gula berlebihan juga dapat memicu resistensi insulin, peradangan kronis, serta gangguan fungsi pembuluh darah yang berujung pada peningkatan tekanan darah.
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan dalam penelitian ini adalah hubungan antara konsumsi jus buah dan hipertensi. Selama ini jus buah sering dipersepsikan sebagai pilihan sehat. Namun penelitian menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi 1,5 porsi atau lebih jus buah setiap hari memiliki risiko 35 persen lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan mereka yang hanya minum kurang dari satu porsi per minggu.
Untuk jenis jus tertentu, setiap tambahan satu porsi jus jeruk per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi sebesar 20 persen. Namun para peneliti mengingatkan bahwa sebagian responden mungkin keliru melaporkan minuman rasa jeruk berpemanis sebagai jus jeruk murni sehingga hasil tersebut perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Temuan ini menarik karena selama bertahun-tahun jus buah kerap dipromosikan sebagai alternatif sehat pengganti minuman bersoda. Sejumlah studi sebelumnya memang menunjukkan bahwa konsumsi jus buah 100 persen dalam jumlah moderat relatif aman. Namun manfaat tersebut tampaknya menghilang ketika konsumsi meningkat dan asupan gula dari jus menjadi terlalu tinggi.
Menurut para ahli, masalah utama pada jus buah adalah hilangnya sebagian besar serat yang secara alami terdapat dalam buah utuh. Padahal serat berperan memperlambat penyerapan gula dan membantu mengontrol kadar glukosa darah.
"Jus buah mungkin tidak berbahaya pada tingkat konsumsi rendah, tetapi dapat menjadi masalah jika dikonsumsi berlebihan," kata Malik. Ia menekankan bahwa jika memilih jus, masyarakat sebaiknya memastikan produk tersebut merupakan jus 100 persen tanpa tambahan gula.
Mengganti satu porsi minuman manis setiap hari dengan buah utuh dapat menurunkan risiko hipertensi hingga 22 persen.
Kabar baiknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa risiko hipertensi dapat ditekan melalui pilihan konsumsi yang lebih sehat. Analisis menunjukkan bahwa mengganti satu porsi minuman manis setiap hari dengan buah utuh dapat menurunkan risiko hipertensi hingga 22 persen. Mengganti satu porsi jus buah dengan buah utuh juga berkaitan dengan penurunan risiko sebesar 19 persen.
Sementara itu, mengganti minuman manis dengan air putih atau susu dikaitkan dengan penurunan risiko hipertensi hingga 13 persen.
Temuan ini memperkuat rekomendasi gizi yang selama ini menganjurkan konsumsi buah utuh dibandingkan jus. Selain mengandung serat lebih tinggi, buah utuh juga memberikan rasa kenyang yang lebih baik dan biasanya mengandung gula alami dalam jumlah yang lebih terkendali.
Amit Khera, ahli kardiologi preventif dari University of Texas Southwestern Medical Center yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan studi ini memberikan pelajaran penting bahwa perilaku makan pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi kesehatan puluhan tahun kemudian.
"Fokus pada masa kanak-kanak memberikan peluang penting untuk pencegahan. Temuan ini juga menantang dua kesalahpahaman yang umum beredar, yakni bahwa semua fruktosa berbahaya tanpa memandang sumbernya, dan bahwa jus buah selalu bermanfaat bagi kesehatan," kata Khera.
Temuan ini menjadi peringatan penting bagi Indonesia yang tengah menghadapi peningkatan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan. Data berbagai survei nasional menunjukkan konsumsi minuman manis, termasuk teh kemasan, minuman berenergi, minuman olahraga, serta minuman berbasis sirup terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
Dalam beberapa tahun terakhir, para pakar kesehatan masyarakat juga mendorong penerapan kebijakan untuk mengurangi konsumsi gula, termasuk melalui cukai minuman berpemanis, pembatasan pemasaran kepada anak-anak, serta peningkatan edukasi gizi di sekolah.
American Heart Association sendiri dalam panduan diet terbarunya menegaskan bahwa tambahan gula dalam makanan dan minuman harus diminimalkan. Organisasi tersebut juga mendukung berbagai kebijakan publik, mulai dari pajak minuman manis hingga peningkatan standar gizi makanan sekolah, untuk menekan konsumsi gula berlebih.
Bagi orang tua, pesan utama dari penelitian ini adalah air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk anak. Jika ingin mengonsumsi buah, mengunyah buah utuh jauh lebih baik dibandingkan meminumnya dalam bentuk jus. Pilihan yang tampak sepele di meja makan hari ini, ternyata dapat menentukan kesehatan jantung dan pembuluh darah puluhan tahun mendatang.





