Mitos Masyarakat Toraja: Orang Tua hingga Anak yang Hilang Disembunyikan “Nenek”

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, TANA TORAJA – Kisah hilangnya warga Toraja kembali memicu cerita lama tentang sosok “nenek” misterius. Balita Laurencia Rombe Bunga dilaporkan hilang di Lembang Mappa, Bonggakaradeng, Tana Toraja. Ia ditemukan sekitar lima kilometer dari titik awal hilang setelah pencarian intensif. Tak hanya itu, seorang pria bernama Suping juga mengalami kejadian serupa saat mencari pakan ternak.

Fenomena ini kembali menghidupkan cerita yang telah lama beredar di tengah masyarakat Toraja. Kisah tentang orang hilang yang disebut “disembunyikan” oleh sosok menyerupai seorang nenek kembali mencuat. Sebagian warga meyakini pengalaman tersebut sebagai bagian dari cerita turun-temurun yang sulit dijelaskan secara logika.

Laurencia Rombe Bunga, balita berusia 3 tahun, sempat membuat panik warga setelah dinyatakan hilang. Ia menghilang di wilayah Lembang Mappa, Kecamatan Bonggakaradeng, Tana Toraja. Setelah pencarian, ia ditemukan kembali dalam jarak sekitar 5 kilometer dari lokasi awal menghilang.

Kejadian serupa juga menimpa Suping (40), warga yang sedang mencari rumput untuk pakan ternak. Ia dilaporkan hilang di wilayah Gandang Batu Silanan, Tana Toraja.
Setelah tiga hari pencarian, ia ditemukan kembali dalam kondisi pucat dan pakaian basah.

Menurut cerita yang berkembang, keduanya disebut “dibawa” atau “disembunyikan” oleh sosok tak kasat mata. Wujudnya kerap digambarkan seperti seorang nenek atau figur lain yang sulit dijelaskan.

Seorang warga Makale, Silas (39), mengaku pernah mengalami kejadian yang hampir serupa saat kecil.

“Dulu saya ingat, waktu saya kecil saya sempat bermain dengan kawan saya. Lalu saat sore jelang malam, teman saya sudah balik ke rumah mereka. Saya masih main-main di dekat rumah teman saya. Kebetulan rumah teman saya itu dekat hutan dan Sungai,” kisahnya.

“Saat itu saya asyik main. Tiba-tiba sesosok orang tua mengajak main saya. Dari cerita orang tua, saya ditemukan di hutan dua hari setelah hilang. Tapi saat itu saya rasa saya hanya bermain sebentar saja. Ya, namanya juga anak-anak. Saya tidak terlalu tahu detail mengingat kejadian itu. Intinya, saya bersyukur saya selamat saat itu,” tambahnya.

Di balik cerita-cerita tersebut, sejumlah penjelasan ilmiah juga kerap dikemukakan.
Korban hilang yang ditemukan kembali sering berada dalam kondisi bingung, syok, atau mengalami halusinasi.

Secara medis, kondisi ini bisa dipicu oleh kelelahan ekstrem dan kekurangan oksigen pada tubuh. Gangguan ini dapat memengaruhi fungsi otak, terutama bagian yang mengatur logika dan persepsi. Akibatnya, seseorang bisa mengalami halusinasi visual maupun auditori.

Dehidrasi berat juga berperan besar dalam perubahan kesadaran. Saat cairan tubuh turun drastis, korban bisa mengalami delirium atau kebingungan akut. Dalam kondisi ini, batas antara realitas, mimpi, dan ingatan menjadi kabur.

Dalam dunia pencarian dan penyelamatan (SAR), dikenal istilah “Golden Time” atau waktu emas 72 jam. Pada periode ini, peluang korban untuk bertahan hidup masih relatif tinggi. Namun setelah melewati tiga hari, risiko dehidrasi dan gangguan organ meningkat signifikan. (edy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menengok Wajah Baru Trotoar HR Rasuna Said
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Pemerintah Segera Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenag RI: Rupang Buddha Nusantara Jadi Penanda Perteguh Diri Agar Bisa Bermanfaat Buat Masyarakat
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Stop Menormalisasikan Anak Dibawah Umur Menonton Film Tidak Sesuai Usia
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Rapat Berjam-jam di Istana, Bahlil Laporkan Ini ke Prabowo
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.