Begini Strategi Purbaya Kejar Pertumbuhan 6%, Meski Harga Minyak Naik

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dalam Economic Update, CNBC Indonesia, Rabu (24/06/2026). (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh tinggi di tengah kondisi harga minyak global yang tinggi.

"Ekonomi kita bisa tumbuh dengan cukup bagus, walaupun harga minyak tinggi," katanya dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dikutip Selasa (23/6/2026).

Purbaya menjelaskan, daya tahan pertumbuhan ekonomi RI tercipta karena risiko tingginya minyak global telah diserap oleh APBN sebagai shock absorber. Dampaknya adalah daya beli masyarakat yang tetap terjaga.


Baca: Purbaya Pede Ekonomi RI Tumbuh Dekati 6% di 2026, Ini Alasannya

"Karena ketika kita absorb kejutan negatif dari pasar minyak dunia itu, harga kalau mungkin nggak naik, akibatnya daya beli masyarakat juga tetap terpelihara, sehingga mereka bisa belanja terus sepanjang 5 bulan pertama tahun ini," ujar Purbaya.

Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia baik acuan Brent atau WTI melonjak sejak akhir Februari hingga menyentuh level di atas US$110 per barel.

Hal tersebut merupakan dampak dari perang yang terjadi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berujung kepada penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak mentah dunia.

Ketika harga minyak mentah naik, efeknya akan sampai kepada dalam negeri, di mana harga minyak acuan Indonesia (ICP) juga melonjak.

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat mengalami tren kenaikan terhitung sejak awal tahun 2026. Per Mei 2026, ICP sudah mencapai level US$ 106,56 per barel, meningkat 65% dibanding ICP Januari 2026 di level US$ 64,41 per barel.

Mengacu data Kementerian ESDM, ICP Januari 2026 tercatat di level US$ 64,41 per barel. Meningkat pada Februari 2026 di level US$ 68,79 per barel. Kemudian kembali meningkat tajam pada Maret 2026 di level US$ 102,26 per barel. Puncak kenaikannya terjadi per April 2026 di level US$ 117,31 per barel dan kembali menurun per Mei 2026 di level US$ 106,56 per barel.

Jika dihitung secara rata-rata selama 5 bulan sejak awal tahun 2026, harga rata-rata ICP sudah menyentuh angka US$ 91,86 per barel.

Baca: Purbaya: Internasional Boleh Huru-Hara, Domestik Aman!

Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi seperti BBM RON 92, RON 95, dan RON 98.

Meskipun demikian, sampai saat pemerintah belum menaikkan harga BBM subsidi seperti RON 90 Pertalite yang paling banyak digunakan masyarakat untuk kebutuhan pribadi ataupun angkutan serta logistik barang.

Meskipun ada kenaikan harga BBM, Purbaya sempat berujar menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua 2026 mendekati 6%.

""Pertumbuhannya? 5,7. Jadi pada kuartal ke II, 5,7" kata Purbaya dalam Media Briefing," ujar menteri keuangan saat media briefing April lalu, dikutip Senin (22/6/2026).


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Pengusaha ungkap daya beli warga RI di tengah ketidakpastian global

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Melalui Diplomasi Kuliner, Delegasi 28 Negara Datang ke Makassar untuk Jajaki Kerja Sama
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Pemkot Jakarta Selatan Resmikan Klinik PMI, Permudah Akses Layanan Kesehatan Warga
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Kualitas SDM Dinilai Faktor Penentu Daya Saing Bangsa di Tengah Transisi Energi
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gelombang 6 IPO: JELI, PRDL, RANS Cs Melantai, Intip Saham Paling Menarik
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Rincian Jumlah Uang Suap yang Diakui Ketua BEM FH UBK Sebelum Aksi di Istana Negara, Bagi-Bagi Senior
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.