Istilah fatherless belakangan menjadi topik perbincangan hangat di Indonesia. Banyak orang mengartikan fatherless sebagai kondisi seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran peran ayah dalam hidupnya. Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, sekitar 20,9 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024 turut memperkuat fenomena ini. Tercatat jumlah anak usia dini di Indonesia mencapai 30,83 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,67 persen atau sekitar 826.875 anak tidak tinggal bersama ayah maupun ibu kandungnya, sementara 7,04 persen atau sekitar 2.170.702 anak hanya tinggal bersama ibu. Dengan demikian, total terdapat sekitar 2.999.577 anak usia dini—atau hampir tiga juta anak yang kehilangan sosok ayah atau tidak tinggal bersamanya.
Angka tersebut tergolong besar dan bahkan belum mencakup anak-anak yang meski ayahnya hadir secara fisik, tetapi tidak memberikan perhatian, kasih sayang, atau keterlibatan emosional yang memadai. Padahal, peran ayah memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan mental, pembentukan emosi, hingga kemampuan anak dalam membangun relasi sosial.
Kondisi fatherless yang dialami sebagian anak Indonesia ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, dampaknya dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara emosional, kognitif, maupun sosial. Lantas, apa sebenarnya fatherless itu? Apa saja penyebab dan dampaknya bagi anak? Serta bagaimana cara menanganinya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa itu fatherless?Fatherless adalah kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah dalam hidupnya. Ketidakhadiran ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kematian, perceraian, perpisahan, atau ayah yang secara fisik hadir tetapi tidak terlibat secara emosional dalam kehidupan anak. Kondisi fatherless dapat memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari emosional, sosial, hingga kognitif. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah rentan mengalami masalah perilaku, seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan kriminalitas. Hal ini dikarenakan anak yang tumbuh tanpa ayah tidak memiliki figur ayah yang dapat menjadi panutan dan contoh perilaku yang baik. Dengan demikian, anak yang tumbuh tanpa ayah lebih rentan mengalami kenakalan remaja karena tidak memiliki figur ayah yang dapat mengawasi dan membimbing anaknya.
Kondisi penyebab terjadinya fatherless pada anak.Terdapat beberapa penyebab terjadinya fenomena fatherless pada anak, di antaranya:
1. Kematian ayah.
Kematian ayah merupakan kehilangan mendalam yang berdampak signifikan secara emisional, psikologis dan perilaku bagi anak, kematian ayah sering memicu fase duka, kecemasan, depresi atau bahkan penurunan harga diri bagi anak.
2. Perceraian.
Perceraian orang tua sering kali berdampak negatif pada anak, baik secara emosional, psikologis, maupun perilaku. Perceraian ini berisiko anak mengalami kesedihan yang mendalam, rasa takut, kebingungan, penurunan prestasi akademik hingga pada perilaku anak.
3. Ayah yang dipenjara.
Kondisi ayah yang dipenjara juga berdampak negatif pada emosional, stigma sosial, hingga kesulitan ekonomi. Anak berisiko mengalami diskriminasi pada lingkungan karena sang ayah berada dipenjara.
4. Ayah yang mengalami masalah kesehatan atau kecanduan. Kondisi ayah yang mengalami hal tersebut berdampak negatif pada anak. Anak berisiko mengalami pengasuhan yang kurang maksimal, yang membuat anak tidak merasa nyaman dan kurangnya kasih sayang apabila berada dirumah.
5. Ayah yang menelantarkan anaknya.
Tindakan tersebut berdampak negatif pada kesehatan anak, baik mental maupun perilaku anak. Perceraian seringkali menjadi sebab ditelantarkannya anak, dikarenakan ayah tidak mau menafkahi dan bertanggung jawab atas anaknya.
Dampak psikologis fatherless pada anak.Kehadiran seorang ayah memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah mungkin menghadapi berbagai tantangan dalam perkembangan mereka. Dampak fatherless dapat bervariasi, tergantung pada usia anak saat mengalami kehilangan, kualitas hubungan dengan ibu atau wali lainnya, serta dukungan sosial yang tersedia. Menurut WHO, keluarga yang suportif dan penuh kasih sayang merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental dan perkembangan anak. Berikut dampak psikologis fatherless pada anak:
1. Dampak Emosional.
Anak-anak yang mengalami fatherless mungkin menunjukkan masalah emosional seperti rasa tidak aman dan cemas, Kesedihan dan depresi, Kemarahan dan agresi, harga diri rendah, kesulitan mengelola emosi. Para ahli menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi anak-anak yang mengalami kehilangan orang tua, seperti konseling dan terapi membantu anak memahami situasi yang sedang terjadi, memproses emosi negatif, dan mengatasi perilaku maladaptif.
2. Dampak kognitif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa ayah mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi, prestasi akademik yang lebih rendah, dan masalah perilaku di sekolah. Untuk mengatasi dampak ini penting bagi figur penggatnti untuk memberikn motivasi, arahan, serta memaksimalkan peran ibu secara emosional dan suportif. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua anak yang mengalami fatherless akan mengalami masalah kognitif, faktor-faktor lain, seperti dukungan dari ibu atau wali, kualitas pendidikan, dan lingkungan sosial, juga berperan penting.
3. Dampak sosial.
Dampak fatherless pada perkembangan sosial anak meliputi kesulitan dalam hubungan sosial, rendahnya rasa percaya diri, prilaku menyimpang dan kenakalan remaja seperti penggunaan narkoba atau alkohol. Anak-anak membutuhkan contoh peran yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Ketiadaan figur ayah dapat membuat anak kesulitan mempelajari keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan
Memahami fenomena fatherless seharusnya menjadi pengingat bagi setiap ayah bahwa kehadiran mereka jauh lebih berarti daripada sekadar memenuhi kebutuhan materi anak. Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, terlibat dalam kegiatan sehari-harinya, serta memberi pelukan dan kata-kata penyemangat adalah hal-hal sederhana yang dapat membuat anak merasa benar-benar memiliki sosok ayah dalam hidupnya.
Pada akhirnya, mencegah fatherless bukan hanya tugas ayah semata, melainkan juga tanggung jawab bersama seluruh keluarga untuk saling mendukung agar setiap anak bisa tumbuh dengan kehadiran kedua orang tuanya secara utuh, baik secara fisik maupun emosional.
Cara menangani dampak fatherless pada anak.Meskipun fatherless dapat menimbulkan tantangan pada kesehatan psikologis anak, ada berbagai cara untuk mengatasi dampak fatherless pada anak untuk tumbuh menjadi individu yang sehat. Berikut cara mengatasinya dampak fatherless pada anak, yaitu dengan mencari figur pengganti untuk anak seperti melibatkan kakek, paman, guru, atau tokoh untuk menjadi figur ayah dalam hidupnya. Pastikan hubungan tersebut bersifat jangka panjang dan didasarkan pada kepercayaan serta dukungan emosional. Komunikasi yang terbuka terhadap anak juga dapat menangani fatherless pada anak, pengasuh utama harus berperan aktif mendengarkan keluh kesah, kemarahan atau kesedihan anak dan meyakini anak bahwa ia masih dicintai. Karena komunikasi yang terbuka pada anak dapat membantu kesembuhan mental anak. Memperkuat rasa percaya diri anak juga dapat membantu anak untuk menemukan minat bakatnya dan mengapresiasi prestasinya untuk meningkatkan harga diri mereka yang terdampak. Menyediakan lingkungan yang stabil untuk anak, lingkungan yang stabil dapat mempertahankan rutinitas harian anak yang teratur dan dapat membuat anak merasa nyaman, fokus pada perawatan diri, merawat diri sendiri secara fisik dan emosional akan membantu kamu memberikan dukungan yang lebih baik bagi anak. Penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dalam menangani fatherless pada anak, pendekatan yang paling efektif adalah dengan menyesuaikan strategi penanganan dengan kebutuhan individu anak dan keluarga.





