JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengungkapkan, ada desakan besar dari para guru di seluruh Indonesia saat pandemi Covid-19 yang memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.
Saat membacakan duplik dalam perkara kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem mengatakan para guru kesulitan menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena keterbatasan sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
"Guru-guru se-Indonesia serentak berteriak. Komplain utamanya adalah: semuanya sulit sekali melaksanakan pembelajaran online menggunakan ponsel mereka," ujar Nadiem di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Nadiem: Digitalisasi Pendidikan Bukan Agenda Pribadi, Perintah Jokowi
Menurut Nadiem, Kemendikbudristek saat itu telah berkoordinasi dengan berbagai penyedia Learning Management System (LMS) untuk memberikan akses gratis kepada murid dan guru.
Namun, persoalan utama justru muncul dari minimnya perangkat yang dimiliki tenaga pendidik.
Ia menjelaskan, penggunaan telepon genggam untuk mengelola kelas virtual dinilai tidak efektif.
Para guru mengalami kesulitan saat menyampaikan materi maupun menjalankan aplikasi pembelajaran daring.
Baca juga: Nadiem Ungkap Kekhawatiran Saat Ditunjuk Jokowi saat Jadi Menteri
"Sekarang, Yang Mulia bisa bayangkan betapa sulitnya mengelola suatu kelas, melakukan Zoom ataupun Google Classroom dengan satu kelas, hanya dengan ponsel? Hampir mustahil guru bisa melaksanakan PJJ. Layar kecil, sulit memaparkan berbagai materi pembelajaran," katanya.
Nadiem menambahkan, kondisi tersebut mendorong para guru mendesak pemerintah agar segera menyediakan laptop untuk menunjang kegiatan belajar mengajar secara daring.
"Mereka mendesak kepala dinas mereka dan juga kementerian untuk memberikan sarana laptop secepat mungkin," ujar dia.
Nadiem menuturkan, pemerintah akhirnya berupaya mencari laptop dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pendidikan.
Baca juga: Nadiem Ungkap Dilema Tinggalkan Gojek demi Masuk Kabinet Jokowi, Sebut Hampir Semua Melarang
Ia menyebutkan, pandemi Covid-19 membuat seluruh kementerian mengalami pemotongan anggaran karena pemerintah memusatkan sumber daya untuk penanganan pandemi.
Akibatnya, Kemendikbudristek tidak memiliki ruang fiskal untuk menambah anggaran pengadaan perangkat TIK yang pada 2020 telah dialokasikan sebesar sekitar Rp763 miliar sejak tahun sebelumnya.
"Karena anggaran Kemendikbud dipotong oleh Kemenkeu di tahun 2020, kami tidak bisa menambahkan anggaran dari 763 miliar itu, padahal kami butuh lebih banyak laptop," kata Nadiem.
Ia menegaskan, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus memaksimalkan setiap rupiah yang tersedia agar sebanyak mungkin sekolah dapat menerima bantuan perangkat.
Baca juga: Siapkan Duplik Pribadi, Nadiem: Replik Jaksa Abaikan Lima Bulan Persidangan




