Jakarta, VIVA – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Deddy Yevri Sitorus buka suara terkait perwakilan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) diduga menerima suap setelah bertemu Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
Adapun BEM UBK sebanyak 15 mahasiswa dari UBK, Universitas MH Thamrin, dan Universitas Terbuka, diterima Gibran setelah menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Salah satunya meminta penghentian sementara pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pengalihan anggaran untuk mendukung biaya operasional pendidikan tinggi.
- ANTARA
Deddy Sitorus menilai ada pihak-pihak yang mengarahkan atau menunggangi setiap gerakan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa. Ia mengatakan PDIP selalu menjadi sasaran tudingan masyarakat terkait menggerakkan aksi unjuk rasa untuk mengkritik pemerintah.
"Ya ini kan menunjukkan bahwa dalam setiap keramaian, dalam setiap gerakan mahasiswa, memang ada pihak-pihak yang berpotensi menunggangi. Nah, cuma sayangnya kan yang dituding dengan yang sebenarnya melakukan kadang-kadang nggak sejalan. Kita dituding menunggangi gerakan mahasiswa," kata dia.
Di sisi lain, Deddy Sitorus tak mengetahui apakah mahasiswa UBK tersebut diarahkan oleh Wapres Gibran atau hanya inisiatif pihak lain.
Menurutnya, setiap gerakan yang menunggangi mahasiswa tersebut bukan berasal dari anak buah, melainkan langsung dari atasan atau pimpinannya.
"Nah, orkestrasi murahan kayak begini kan nggak mungkin dari bawah gitu, tapi dari atas," kata Deddy Sitorus.
Ia meminta agar masyarakat tak menuduh PDIP sebagai dalang menggerakkan aksi unjuk rasa untuk mengkritik pemerintah.
"Nah, saya kira ini pelajaran buat kita semua agar jangan sembarangan menuduh. Karena, kadang-kadang orang-orang yang sembunyi di belakang itu lebih mudah untuk melakukan manuver-manuver murahan kayak begini," tuturnya.
Sebelumnya, pengakuan Ketua BEM FH UBK (Universitas Bung Karno), Muhammad Abdi Maludin, menghebohkan publik setelah video pernyataannya viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Muhammad Abdi Maludin mengaku menerima uang suap aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Istana Negara, Jakarta, pada 15 Juni 2026.
Menurut pengakuannya, total uang yang diterima mencapai Rp20 juta. Dana tersebut kemudian dibagikan kepada sejumlah mahasiswa dengan nominal sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per orang.





