Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan meminta seluruh perguruan tinggi di Indonesia mengambil peran aktif dalam mengatasi persoalan sampah melalui pengembangan riset dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Fauzan menegaskan bahwa hasil penelitian di kampus tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan harus mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk masalah sampah yang menjadi tantangan nasional.
Ia mengatakan, "Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi."
Fauzan menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang berhasil mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis riset dengan nilai tambah bagi masyarakat.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Provinsi Sulawesi Selatan pada 2024 mencapai 1,21 juta ton.
Menurut Fauzan, inovasi pengolahan sampah yang diterapkan Unismuh mampu membantu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan.
Ia mengungkapkan, "Yang paling penting adalah bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih fungsional dan bernilai guna. Inilah wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan."
Unismuh Makassar mengembangkan metode Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) sebagai pusat pengelolaan sampah berkelanjutan yang mencakup pemilahan sampah, penguatan bank sampah, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pengolahan sampah organik dan anorganik.
Melalui sistem tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos, eco-enzyme, pakan maggot, sabun, serta lilin berbahan minyak jelantah.
Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang melibatkan sivitas akademika dan didukung kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Sistem pemilahan sampah juga diterapkan di berbagai unit kampus sehingga volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir dapat ditekan.
Selain menjadi pusat pengelolaan sampah, fasilitas tersebut berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan melalui keterlibatan mahasiswa dalam program relawan Eco Ranger.
Berbagai produk daur ulang seperti ecobrick, kerajinan dari plastik dan kertas bekas, serta lilin berbahan minyak jelantah menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus membangun budaya keberlanjutan di lingkungan perguruan tinggi.




