JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Makarim, mengaku membentuk tim berisi Jurist Tan dan lain-lain karena merasa khawatir saat memulai jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).
"Karena kecemasan ini, saya merekrut orang-orang yang bukan hanya berpengalaman di bidang pemerintahan dan pendidikan, tetapi juga mengerti budaya dan gaya kepemimpinan saya yang dibentuk di sektor swasta. Saya membutuhkan jembatan antara saya dan dunia pemerintah,” kata Nadiem di persidangan, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Nadiem Ungkap Kekhawatiran Saat Ditunjuk Jokowi saat Jadi Menteri
Nadiem berbicara dalam sidang beragendakan duplik di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat.
Kecemasan yang dimaksud Nadiem adalah kecemasan menghadapi dunia pemerintahan sebagai kultur baru, karena Nadiem berlatar belakang dunia perusahaan swasta.
Ia kembali menegaskan alasan merekrut sejumlah tokoh muda sebagai penasihat dan staf khusus selama menjabat sebagai menteri.
"Karena kesadaran akan keterbatasan itulah saya merekrut orang-orang yang tidak hanya berpengalaman di bidang pemerintahan dan pendidikan tetapi juga memahami budaya dan gaya kerja dari sektor swasta. Inilah alasan saya menghadirkan sejumlah pemimpin muda sebagai penasehat dan staf khusus," lanjutnya.
Baca juga: Kejagung Klaim Terus Buru Jurist Tan, Tak Hanya Andalkan Interpol
Dalam kesempatan itu, Nadiem menyatakan tim yang dibentuknya terdiri dari kalangan profesional muda yang memiliki integritas tinggi dan berorientasi pada kemajuan pendidikan.
Mulai dari Jurist Tan, Hamid Muhammad, Fiona Handayani, Pramoda Dei Sudarmo, Muhamad Heikal hingga Najelaa Shihab.
"Saya mencari orang-orang yang dapat mengajari saya, yang berani berbeda pendapat dengan saya, dan yang senantiasa mendahulukan misi pendidikan di atas atas kepentingan pribadi mana pun, termasuk kepentingan saya sendiri," paparnya.
Khawatir tak dapat info seutuhnyaSaat ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi Mendikbud pada 2019, Nadiem khawatir dianggap tidak kompeten oleh jajaran di kementerian.
"Dengan jujur saya harus akui, saat itu saya khawatir jika saya dijadikan menteri, saya akan dianggap kurang kompeten oleh para bawahan saya," jelasnya.
"Saya khawatir, saya tidak akan mendapatkan informasi yang utuh dari bawahan saya. Dan saya khawatir saya tidak akan berdaya menghadapi kompleksitas birokrasi," lanjutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




