Surabaya – Perekonomian Jawa Timur menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Meski dunia masih dibayangi konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, dan tingginya suku bunga global, aktivitas ekonomi di provinsi ini tetap bergerak positif dengan ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan stabilitas inflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menilai kondisi ekonomi daerah masih berada dalam jalur pertumbuhan yang sehat. Berbagai indikator menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap terjaga, meskipun tekanan eksternal masih membayangi pasar global.
Secara global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang memengaruhi perekonomian dunia. Penguatan dolar AS serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global membuat arus modal internasional bergerak lebih selektif.
Namun demikian, ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Timur, dinilai memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, inflasi relatif terkendali, dan aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Di Jawa Timur, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi. Tingginya mobilitas masyarakat, meningkatnya aktivitas perdagangan, serta membaiknya daya beli menjadi faktor yang menopang optimisme ekonomi daerah.
Selain konsumsi, investasi juga menunjukkan tren positif. Berbagai proyek strategis nasional dan investasi swasta terus berjalan, khususnya di sektor manufaktur, logistik, industri pengolahan, dan hilirisasi komoditas. Kondisi ini memberikan efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Bank Indonesia juga mencatat stabilitas inflasi Jawa Timur tetap terjaga berkat sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Berbagai program penguatan produksi pangan dan distribusi turut membantu menjaga pasokan dan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Dari sisi sistem pembayaran, transformasi digital terus berkembang pesat. Jumlah pengguna QRIS di Jawa Timur telah mencapai hampir 9 juta pengguna dengan lebih dari 2,7 juta merchant yang telah terintegrasi dalam ekosistem pembayaran digital. Perkembangan ini menunjukkan semakin luasnya adopsi ekonomi digital di masyarakat.
Bank Indonesia optimistis ekonomi Jawa Timur akan tetap tumbuh positif sepanjang 2026. Dukungan konsumsi domestik, investasi yang terus meningkat, percepatan digitalisasi, serta penguatan sektor unggulan daerah menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap berbagai risiko global yang berpotensi memengaruhi ekspor, arus modal, dan stabilitas harga komoditas dunia. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, sektor keuangan, dan masyarakat menjadi kunci agar ekonomi Jawa Timur tetap tumbuh kuat dan berkelanjutan.





