Kebakaran Hutan Diperkirakan Meningkat, BMKG Luncurkan Sistem Prediksi

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat selama musim kemarau 2026. Risiko tersebut dinilai semakin besar seiring potensi fenomena El Nino berkategori moderat yang dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya berupa banjir dan longsor akibat hujan lebat. Namun, bisa juga bencana hidrometeorologi kering seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

“Ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya yang bersifat basah akibat hujan lebat seperti banjir dan longsor, tetapi juga hidrometeorologi kering seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan,” kata Ida dalam Sosialisasi Memahami Potensi Karhutla Berbasis Informasi Cuaca melalui SPARTAN, yang digelar secara daring, Selasa (23/6/2026).

Juni hingga Agustus menjadi periode yang paling perlu diwaspadai karena identik dengan puncak musim kemarau.

Menurut Ida, potensi karhutla umumnya meningkat saat memasuki musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September. Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kondisi cuaca yang lebih kering sehingga meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran.

Ia menjelaskan bahwa pola musim di Indonesia menunjukkan Desember hingga Februari sebagai periode musim hujan, sementara Maret–Mei dan September–November merupakan masa peralihan atau pancaroba. Adapun Juni hingga Agustus menjadi periode yang paling perlu diwaspadai karena identik dengan puncak musim kemarau.

Baca JugaSejumlah Titik Panas Terdeteksi di Jalur Mudik Riau-Sumut, Ini Antisipasinya

“Pada bulan-bulan ini ancaman kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan biasanya meningkat. Apalagi BMKG telah memproyeksikan adanya potensi El Nino moderat pada tahun ini,” ujarnya.

Karhutla tidak hanya berdampak pada kerusakan ekosistem dan hilangnya tutupan hutan, tetapi juga menurunkan kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat, serta menghambat aktivitas transportasi akibat kabut asap. Dalam kondisi tertentu, asap kebakaran bahkan dapat menyebar melintasi batas wilayah dan memunculkan persoalan lintas daerah maupun lintas negara.

Peringatan dini kebakaran

Untuk memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi, BMKG menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dalam memahami dan memprediksi potensi karhutla. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN), sebuah platform berbasis informasi cuaca yang mampu memprediksi tingkat bahaya kebakaran hingga tujuh hari ke depan.

Ketua Tim Analisis dan Pengelolaan Citra Satelit dan Deteksi Petir BMKG, Alpon Sepriando, menjelaskan bahwa SPARTAN merupakan sistem peringatan dini yang dirancang untuk menilai tingkat bahaya kebakaran. SPARTAN juga dapat memetakan potensi penyebaran api berdasarkan kondisi cuaca.

“SPARTAN merupakan sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan berbasis parameter cuaca yang digunakan untuk menilai tingkat bahaya kebakaran. Prediksinya tersedia hingga tujuh hari ke depan,” kata Alpon.

Baca JugaEl Nino 2026 Berpotensi Perburuk Cuaca Ekstrem

Sistem tersebut bekerja secara otomatis dengan mengolah parameter cuaca seperti suhu udara, kelembapan, curah hujan, dan kecepatan angin. Hasilnya diterjemahkan ke dalam enam indeks utama, yakni Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC), Drought Code (DC), Initial Spread Index (ISI), Build Up Index (BUI), dan Fire Weather Index (FWI).

FFMC digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan seperti rumput dan serasah. DMC menggambarkan kondisi lapisan organik pada kedalaman menengah, sedangkan DC menunjukkan tingkat kekeringan lapisan tanah yang lebih dalam dan menjadi indikator penting kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran.

BMKG juga memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS), sistem peringatan tingkat kemudahan terbakar yang telah dikembangkan sejak akhir 1990-an.

Sementara itu, ISI menunjukkan kemudahan penyebaran api yang dipengaruhi kecepatan angin. Adapun BUI menggambarkan akumulasi bahan bakar kering, dan FWI menjadi indikator utama tingkat bahaya kebakaran secara keseluruhan.

“Semakin tinggi nilai Fire Weather Index, semakin besar intensitas api dan semakin sulit kebakaran dikendalikan,” ujar Alpon.

Selain SPARTAN, BMKG juga memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS), sistem peringatan tingkat kemudahan terbakar yang telah dikembangkan sejak akhir 1990-an melalui kerja sama internasional, termasuk dengan Kanada. Sistem tersebut terus disempurnakan melalui kolaborasi BMKG, Kementerian Kehutanan, dan berbagai mitra internasional.

“FDRS bukan produk baru, tetapi sudah dikembangkan sejak lama melalui kerja sama internasional dan terus disempurnakan hingga saat ini,” kata Ida.

Baca JugaKamera Pantau Dipasang di Lokasi Langganan Kebakaran Gambut Jambi

BMKG juga terus memperkuat layanan informasi karhutla melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan teknis, integrasi model prediksi di wilayah rawan seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan, serta pemanfaatan data satelit dan model numerik untuk meningkatkan akurasi prediksi.

Menurut Ida, pemahaman terhadap informasi cuaca menjadi salah satu kunci utama dalam pencegahan karhutla. Karena itu, BMKG berharap pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, dunia usaha, media, dan masyarakat dapat memanfaatkan informasi yang tersedia sebagai dasar pengambilan keputusan dan langkah mitigasi.

Baca JugaAntisipasi Kemarau Dini dengan Pengelolaan Air

“Kita perlu memahami bagaimana menginterpretasikan informasi yang sudah disiapkan oleh BMKG agar dapat digunakan dalam penanggulangan bencana, khususnya karhutla,” katanya.

Melalui penguatan sistem informasi seperti SPARTAN dan FDRS, BMKG berharap deteksi dini dan mitigasi kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berbasis data sehingga risiko bencana dapat ditekan sebelum kebakaran meluas


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Sejumlah Mahasiswa Diduga Terima Uang Rp2,5 Juta Usai Bertemu Gibran, BEM FH UBK Buka Suara
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Komnas Perempuan di Kasus Penyekapan Wanita Bandung: Kekerasan Berbasis Gender
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Pembunuhan Kacab Bank, Tiga Aktor Intelektual Dituntut 15 Tahun Penjara
• 18 jam laludetik.com
thumb
Persija Jakarta Datangkan Gelandang Eks Timnas Jepang U-22, Riwayat Cedera Kyohei Yoshino Jadi Sorotan
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Gus Ipul Pastikan Penutupan Munas dan Konbes NU Dihadiri Presiden Prabowo
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.