Waspadai Bahaya Sekunder Gunung Semeru di Musim Kemarau

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS — Meski telah memasuki musim kemarau, bahaya erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, harus terus diwaspadai. Salah satunya terkait bahaya sekunder karena erupsi masih berlangsung sewaktu-waktu dengan statusnya Level 3 alias Siaga.

Dekan Fakultas Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika Universitas Brawijaya Malang, Sukir Maryanto, Selasa (23/6/2026), mengatakan, karakteristik letusan Semeru mulai berubah. Keberadaan awan panas telah sampai di pertengahan lereng (Besuk Kobokan).

“Ujungnya awan panas itu kalau di Semeru ada istilah lidah lava bekas awan panas. Lidah lava itu material yang mengendap hasil erupsi dan masih panas dalam jangka panjang. Endapan itu suhunya bisa di atas 200 derajat celsius,” ucapnya. Karena kondisi inilah, lanjutnya, masyarakat di sekitar Semeru perlu mewaspadai.

Seperti diketahui, seorang penambang pasir bernama Veri Irawan (33), meninggal dunia Minggu (21/6/2026). Warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, ini tertimbun material sisa awan panas guguran, Sabtu (20/6/2026) malam.

Korban sempat mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU RSUD Dr Haryoto Lumajang lantaran mengalami luka bakar di sekujur tubuh sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Saat peristiwa terjadi, dia bersama belasan penambang lainnya tengah beraktivitas. Tiba-tiba tebing di dekatnya ambrol dan menimpanya.  

Baca JugaSemeru Masih Fluktuatif, Status Tetap Siaga

Material awan panas itu memiliki suhu 400-600 derajat celsius. Begitu tersentuh air, lidah lava yang memiliki suhu relatif tinggi bisa memicu awan panas. Sehingga, meski tidak di puncak, mendung di kawasan lereng tetap perlu diwaspadai karena bisa memicu timbulnya awan panas akibat interaksi air hujan dan endapan lidah lava.     

“Cuaca di Semeru juga tidak menentu. Terkadang tertutup oleh kabut, kadang di puncak hujan, kalau laharnya bisa melalui besuk kobokan melalui lidah lava, bisa jadi lahar panas. Namun jika hujan tidak melalui jalur lidah lava akan jadi lahar dingin. Meski demikian lahar panas dan dingin memiliki energi besar dapat menghanyutkan truk,” ucapnya.

Pakar vulkanologi dan geotermal ini merinci, ada beberapa hal yang menjadi ancaman bahaya di Semeru yang perlu diwaspadai. Di antaranya, timbulnya awan panas tidak dari puncak melainkan ujung lidah lava; kemungkinan guguran material yang terkena hujan, baik menjadi lahar panas maupun dingin. Selain itu, tentu saja awan panas yang berasal dari puncak atau kawah.

Untuk awan panas dari puncak, katanya, dapat lebih terpantau karena ada petugas di pos pengamatan gunung api. “Yang bahaya kalau awan panas yang timbul di lereng yang tidak terpantau. Sehingga perlu tetap diwaspadai meski di musim kemarau,” katanya.

Disinggung soal berapa lama suhu panas terperangkap dalam material di lidah lava, menurut Sukir itu memerlukan pendataan lebih detail. Soalnya suhu di puncak cenderung fluktuatif. Jika suhu 600 derajat celsius atau lebih, maka suhu panas yang terkandung dalam material itu bisa tahan dalam waktu lebih lama dibandingkan jika temperaturnya hanya 400 derajat.  

Yang bahaya kalau awan panas yang timbul di lereng yang tidak terpantau. Sehingga perlu tetap diwaspadai meski di musim kemarau.

Menurut Sukir, sebelum tahun 1963, tipe erupsi Semeru cenderung plinian alias sangat eksplosif. Namun, periodisasi letusannya tidak secepat erupsi strombolian dan vulkanian. Lalu, mulai tahun 1967 hingga 1990-an, tipe erupsinya berubah menjadi vulkanian, sedangkan 1990-an sampai 2000-an menjadi strombolian. “Lalu berubah lagi, sekarang ada embusan dan terakhir ini embusan campur lidah lava. Awan panasnya aktif di lidah lava. Jadi awan panas yang muncul di tengah,” katanya.  

Baca JugaSemeru Aktif Erupsi, Penambangan di Sekitar Gunung Dilarang

Terkait penambang pasir yang menjadi korban, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mengimbau masyarakat, terutama penambang untuk tidak beraktivitas pada malam hari karena berisiko. Kepala BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan selain jarak pandang terbatas, aktivitas vulkanik Semeru juga masih fluktuatif.

Sementara itu, sepanjang Selasa hingga pukul 14.00, berdasarkan data magma.esdm.go.id Semeru mengalami lima kali erupsi dengan tinggi kolom abu maksimal 1.200 meter dari puncak. Erupsi masing-masing terjadi pukul 00.21 WIB, 05.30, 06.21, 08.05, dan 09.38 dengan tinggi kolom abu berwarna putih kelabu dengan intensitas sedang-tebal ke arah selatan dan barat daya.

Empat kali letusan sebelumnya teramati. Namun, pada letusan pukul 09.38 WIB, tinggi kolomnya tidak teramati. Hal itu dikemukakan petugas pos pengamatan Gunung Api Semeru, Mukdas Sofian. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo 22 milimeter dan durasi 117 detik.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi, yakni masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara, sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer (km) dari pusat erupsi.

Masyarakat agar jangan beraktivitas di bawah jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan), di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

Selain itu, masyarakat jangan beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru. Sebab, hal itu rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Warga agar mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menikmati Gemerlap Cahaya Jakarta Light Festival di Kota Tua
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Lapas Tulungagung Renovasi Rumah Warga Tak Layak Huni, Libatkan 7 Warga Binaan Bersertifikat
• 5 jam laluberitajatim.com
thumb
Aksi Mahasiswa Mojokerto Memanas, Kritik MBG hingga Singgung Nasib Guru Honorer
• 19 jam laluberitajatim.com
thumb
PLN Sebut Sistem Kelistrikan di Jawa Membaik, Pemadaman Bergilir Diminimalisasi
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Ini Alasan Roy Suryo dan dr Tifa Diperiksa Kesehatannya di RS Polri
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.