Salomina Yewi (65) atau Mama Salomina hidup menjanda sejak ditinggal suaminya 25 tahun silam. Sejak saat itu, ia terus bekerja keras agar kelak rumah yang ditempatinya bersama empat anggota keluarganya bisa nyaman melindungi. Setidaknya, rumah itu bisa menahan rembesan air saat hujan atau terjangan angin saat badai lewat di pesisir Jayapura.
Rumah Mama Salomina berdiri di atas air pesisir Teluk Humboldt, kompleks Pasar Inpres, Kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.
“Semenjak suami meninggal saya turun ke sini dan berjualan di pasar sejak 2001. Saat itu, saya juga coba mulai bangun rumah untuk saya dan anak-anak,” kata Mama Salomina, Senin (22/6/2026).
Rumah ini pelan-pelan dulu dibangun dari hasil berjualan jajanan tradisional dan pinang di Pasar Inpres yang berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. Rumah ini pun menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan untuk dua anak dan dua cucunya.
Ukuran rumah Mama Salomina sekitar 16 meter x 8 meter. Struktur bangunan rumah itu sebagian besar berdinding papan dan triplek.
Hanya ada satu kamar dengan ukuran kecil di rumah ini. Ada pula satu ruang tengah yang juga biasa dipakai tidur bersama. Selain itu, ada satu ruang tamu kecil tanpa kursi ataupun meja.
Sisi dapur rumah Mama Salomina dipakai untuk macam-macam kegiatan. Selain memasak, ruang sekira 3 meter x 5 meter itu juga menjadi gudang penyimpanan serta tempat untuk keperluan mandi cuci dan kakus (MCK).
Tempat MCK tanpa penyekat itu berjarak hanya sekitar 2 meter dari kompor untuk masak “Ada yang mau buang air atau mandi, berarti pintu dapurnya ditutup. Mau mencuci juga semua di sini,” ucap Mama Salomina.
Di sisi lain, struktur bangunan rumah Mama Salomina jauh dari kata kokoh. Seluruh dinding yang terbuat dari papan dan triplek yang sebagian besar sudah reyot.
Sementara itu, struktur atapnya juga tidak lagi melindungi sisi dalam rumah. Banyak sisi atap tersebut tidak menutup rapat.
Tatkala hujan datang, air bebas masuk melalui celah-celah itu ke dalam rumah. Belum lagi, jika hujan ini diikuti angin, maka air semakin banyak “bertamu” melalui dinding rumah yang tidak sepenuhnya menutup.
“Rumah ini belum pernah direnovasi. Kalau mama ada uang, mama kadang beli seng atau papan atau triplek. Tapi masih kurang,” ujarnya.
Uangnya tidak cukup untuk renovasi besar-besaran. Penghasilannya sebagai pedagang asongan jauh dari kata cukup. Dalam sebulan, ia hanya bisa menghasilkan sekitar sejutaan. Bahkan, sering juga di bawah itu.
“Kadang sehari dapat uang Rp 10.000 atau Rp 20.000, mama tetap bersyukur. Pasti Tuhan akan kirim berkat yang lebih suatu hari nanti,” ujarnya.
Mama Salomina kini mulai lega. Kabar baik itu hadir setelah rumahnya diajukan untuk diperbaiki melalui program bedah rumah dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Kadang sehari dapat uang Rp 10.000 atau Rp 20.000, mama tetap bersyukur. Pasti Tuhan akan kirim berkat yang lebih suatu hari nanti.
Di Kota Jayapura Kementerian PKP fokus menata sejumlah permukiman kumuh. Di wilayah Tanjung Ria, ada program penataan kawasan berupa perbaikan jalan, drainase, hingga penyediaan air bersih. Di dalamnya juga termasuk bedah rumah serta perbaikan fasilitas sanitasi.
Untuk bedah rumah di Tanjung Ria ini dijalankan dengan menyesuaikan karakteristik lingkungan pesisir. Dinding dan lantai menggunakan kayu serta atap dari seng.
Warga lainnya, Daniel Karomat (42), juga akhirnya bisa tersenyum lega karena juga menerima bantuan bedah rumah dari Kementerian PKP ini. Baginya, ini sangat membantu di tengah kondisi ekonomi yang kurang baik.
Pria yang bekerja sebagai nelayan ini menempati rumah yang dibangun ayahnya sejak 1980-an silam. Daniel mewarisi rumah berdiameter 15 meter x 7 meter ini dari ayahnya untuk tinggal bersama 12 anggota keluarga lain.
“Saya dan istri tinggal bersama delapan anak serta orang tua dan mertua saya,” ujarnya.
Sama seperti Mama Salomina, kondisi rumah ini jauh dari kata layak. Dinding dan atap yang bocor sana-sini. Sering kali 13 anggota keluarga ini harus berdempetan di ruang depan agar tetap hangat saat hujan atau badai datang.
Pendapatan Daniel sekitar Rp 1 juta sebulan tentunya tidak cukup untuk renovasi rumah ini. Terakhir kali, Daniel sempat mendapat bantuan untuk perbaikan atap di sisi depan rumah ialah pada 2014.
“Sekarang bersyukur dapat bantuan program ini. Semoga semakin banyak warga yang dapat dan fasilitas lain juga ikut diperbaiki,” ujarnya.
Di kompleks pesisir ini, sejumlah warga juga mengharapkan adanya sarana dan prasarana penunjang lain yang diperhatikan. Mama Salomina dan Daniel turut menghapkan fasilitas bagi anak-anak mereka.
Daniel masih ingat, setahun lalu ada anak terjatuh ke laut saat bermain di di sekitar jalan jembatan kampung. Anak tersebut, ditemukan beberapa jam kemudian di pesisir dalam keadaan tak bernyawa.
Sebagian besar jalanan di kampung merupakan merupakan jembatan kayu. “Hanya sebagian yang beton. Kebanyakan masih jembatan kayu yang sudah mulai goyang-goyang dan lapuk,” kata Daniel.
Lurah Tanjung Ria Fofid Edmundus mengatakan, daerah kompleks pesisir Pasar Inpres ini merupakan daerah permukiman padat dengan beragam masalah. Salah satunya terkait ruang yang aman dan nyaman bagi anak untuk bermain.
Kawasan ini memiliki jumlah anak yang cukup banyak. Setiap keluarga bisa memiliki 5-8 anak.
Di sisi lain, ruang aman bagi anak di liangkungan sekitar masih minim. Anak-anak hanya bisa bermain di sisi samping atau depan rumah yang berdiri di atas pesisir laut ini.
Adapun jalan penghubung antar rumah hanya menggunakan jembatan kayu. Sekitar 70 persen jembatannya masih berupa jembatan kayu.
“Ini juga yang menjadi perhatian yang kami sampaikan kepada pemerintah agar, tempat bermain anak ini juga diperhatikan,” ujarnya.
Sementara itu, di wilayah Kelurahan Tanjung Ria memang terdapat sejumlah titik yang perlu mendapat penataan. Fofid mengatakan, pihaknya sempat mengajukan untuk perbaikan lebih dari 300 rumah untuk masuk dalam bedah rumah.
“Sejauh baru 23 rumah yang diperbaiki. Kami berharap semakin banyak rumah yang diperbaiki, apalagi di wilayah pesisir ini kebanyakan warganya berpenghasilan rendah,” tutur Fofid.
Mama Salomina, Daniel Koromat, serta Fofid Edmundus turut menyampaikan keluhan ini saat kunjungan rombongan Kementerian PKP bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI Amalia Adininggar Widyasanti, Pemerintah Provinsi Papua, serta Pemerintah Kota Jayapura di Tanjung Ria.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perumahan Perdesaan Kementerian PKP Rini Dyah Mawarty mengatakan, wilayah Tanjung Ria menjadi salah satu lokasi penataan kawasan melalui sejumlah program. Hal ini meliputi pembangunan drainase lingkungan, pembangunan jalan lingkungan, penyediaan air bersih serta bedah rumah dan pengadaan fasilitas sanitasi.
Adapun program bedah rumah dijalankan melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Tahun ini, Kota Jayapura mendapatkan sekitar 500 unit rumah yang mendapatkan bantuan BSPS, termasuk 23 unit di Tanjung Ria. Sementara itu, untuk di tanah Papua, ditargetkan bedah rumah akan mencapai 22.000 unit.
Pengerjaan rumah di wilayah Tanjung Ria akan dimulai pada Juli 2026 dan ditargetkan tuntas dalam dua bulan. Adapun untuk pengerjaan penataan kawasan juga dimulai pada bulan yang sama dan ditargetkan tuntas dalam dua bulan.
Menteri Tito mengatakan, bedah rumah ini adalah upaya pemerintah untuk menghadirkan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pemerintah menargetkan ada total 3 juta rumah bagi MBR di seluruh Indonesia.
Anggaran dari penataan ini, kan, masih ada sisa. Ini bisa digunakan untuk memperbaiki kebutuhan (sarana-prasarana) anak.
”Hari ini, kita datang dan melihat di sini (Permukiman di Tanjung Ria). Ini perlu ditangani. Sampah bertebaran dan tidak ada drainase. Jembatan kayu sudah goyang, bahkan jembatan beton juga sudah mulai miring,” ujarnya.
Di sisi lain, Tito juga mengingatkan, baik Kementerian PKP maupun pemerintah daerah untuk memperhatikan ruang bagi anak. “Anggaran dari penataan ini, kan, masih ada sisa. Ini bisa digunakan untuk memperbaiki kebutuhan (sarana-prasarana) anak,” ujar Tito.
Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar mengatakan, kehadirannya juga untuk memantau dan memastikan penyaluran perumahan ini tepat sasaran. Penyaluran dilakukan berdasarkan data yang terverifikasi.
“Rumah-rumah telah didatangi petugas sensus. Karena itu, kami memastikan bantuan yang diberikan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujar Amalia.





