Hanya sekitar 45 kilometer dari Tugu Monas Jakarta terdapat hamparan kebun kelapa sawit seluas ratusan hektare. Lokasinya berada di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Seiring pesatnya pembangunan perumahan dan industri di wilayah tersebut, jalan yang membelah perkebunan itu bahkan menjadi jalur alternatif menuju sejumlah kawasan perumahan di belakangnya.
Bagi orang yang baru melintas, pemandangan tersebut sering memunculkan pertanyaan: mengapa ada kebun sawit begitu luas di dekat Jakarta, dan siapa pemiliknya?
Sejarah kebun tersebut berkaitan dengan proyek agribisnis keluarga Presiden ke-2 Soeharto. Beberapa dokumentasi lama yang mengutip data Departemen Pertanian menyebut kawasan tersebut merupakan bagian dari Mekarsari Oil Palm Research Center, pusat pembibitan dan penelitian kelapa sawit dengan luas sekitar 300 hektare.
Merujuk pada citra satelit Google Earth, perkebunan masih dalam satu kawasan dengan Taman Buah Mekarsari. Kawasan yang digagas oleh Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto itu dibangun pada 1990, lalu diresmikan pada 1995.
Kebun Sawit Mekarsari (Google Earth)
Sejak awal, Taman Buah Mekarsari memang tidak hanya dirancang sebagai tempat wisata. Pengelola mengembangkannya sebagai pusat pelestarian plasma nutfah buah-buahan tropis, penelitian budidaya tanaman, pemuliaan varietas unggul, serta pengembangan bibit untuk petani dan masyarakat.
Dari aktivitas penelitian dan pembibitan tersebut, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang turut dikembangkan. Dalam sebuah tulisan di situs Mekarsari yang diunggah pada 2018, terdapat informasi mengenai benih kelapa sawit yang diproduksi oleh PT Sasaran Ehsan Mekarsari (SEM) dan cara pemesanannya.
Saat ini, kepemilikan dan pengelolaan Taman Buah Mekarsari lekat dengan nama Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto, putri bungsu Soeharto.
Media lokal yang mengangkat soal pengelolaan “jalan sawit” sempat mengutip pernyataan camat setempat tentang kepemilikan tanah terkait jalan ini. Terdapat bidang-bidang tanah yang disebut dimiliki Yayasan Purnabakti Pertiwi yang lekat dengan keluarga Cendana.
Kebun sawit di Desa Mampir bukan satu-satunya hamparan sawit yang dapat ditemukan di kawasan Cileungsi dan sekitarnya.
Sekitar 15 kilometer dari lokasi tersebut, terdapat Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit (KPPS) Jonggol yang dikelola Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Kebun seluas 50 hektare ini berfungsi sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa dan peneliti untuk mempelajari budidaya kelapa sawit dari hulu hingga hilir.
Pada 2023, IPB didukung pendanaan dari BUMN perkebunan PT Perkebunan Nusantara III meresmikan Laboratorium Riset Pengolahan Kelapa Sawit Mini di kawasan tersebut. Fasilitas ini dirancang menyerupai pabrik kelapa sawit skala industri, tetapi dengan kapasitas yang jauh lebih kecil untuk kebutuhan pendidikan dan penelitian.
Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit IPB (Google Earth)
Saat peresmian, Ketua Tim Laboratorium Riset Pengolahan Kelapa Sawit Mini IPB, Sudrajat, mengatakan fasilitas tersebut memiliki alur produksi yang lengkap dan mengikuti standar industri.
“Untuk selanjutnya kami mengundang kepada alumni untuk membangun lagi pabrik minyak beserta turunan dari industri sawit yang sudah dikelola di laboratorium ini,” ujarnya saat peresmian.
Merujuk pada publikasi di situs IPB, unit pengolahan mini yang tersedia saat ini mampu mengolah hingga dua ton tandan buah segar (TBS) per jam. Menurut IPB, ini merupakan unit pengolahan kelapa sawit pertama di dunia yang dimiliki oleh sebuah universitas.




