Gelontoran Stimulus Rp 26,3 T Dinilai Bisa Jaga Pertumbuhan dan Tahan Inflasi

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun yang disiapkan pemerintah untuk semester II 2026 dinilai menjadi bantalan penting bagi perekonomian di tengah tekanan global yang tinggi.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, berpandangan stimulus tersebut jadi langkah antisipatif untuk menghadapi berbagai risiko eksternal, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga penguatan dolar AS.

"Kami melihat paket ini merupakan langkah counter-cyclical yang terkalibrasi (meski tidak bernilai jumbo),” ujar Gunarto kepada kumparan, Selasa (23/6).

Menurut Gunarto, fokus terbesar stimulus yang diarahkan ke bantuan pangan menunjukkan pemerintah berupaya menjaga konsumsi rumah tangga.

"Kami melihat paket kebijakan terbaru yang baru dirilis oleh pemerintah ini berperan sebagai pendorong bagi aktivitas konsumsi domestik dan juga sebagai penahan laju inflasi,” ucapnya.

Dia juga menyebut pemerintah cukup berhati-hati dalam merancang stimulus sehingga tidak membebani kondisi fiskal secara berlebihan.

Gunarto melanjutkan, stimulus tersebut hisa membantu menjaga pertumbuhan ekonomi RI di level 5,17% sepanjang 2026. Selain itu, inflasi diproyeksi tetap terkendali di kisaran 3,09% serta membantu menekan risiko kenaikan kredit bermasalah (NPL) di sektor perbankan.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, menilai dampak stimulus terhadap pasar saham lebih banyak berfungsi sebagai penahan tekanan dibanding menjadi pemicu reli besar IHSG.

Menurut Nafan, pasar modal domestik saat ini masih dibayangi sentimen eksternal, terutama pelemahan rupiah dan sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang memicu arus keluar dana asing.

"Stimulus ini akan menahan kejatuhan IHSG lebih dalam karena memberikan kepastian bahwa ekonomi domestik masih dijaga agar tidak lesu. Jadi, efeknya lebih ke menjaga stabilitas ketimbang jadi motor reli bursa ke arah akhir tahun,” ucap Nafan.

Menurutnya, alokasi stimulus yang banyak diarahkan untuk bantuan pangan dan subsidi lebih tepat sasaran karena mampu menjaga konsumsi kelompok masyarakat bawah.

"Agar roda konsumsi rumah tangga tetap berputar,” tutur Nafan.

Meski demikian, Nafan menilai investor asing masih bakal mencermati sejumlah indikator utama sebelum kembali masuk secara agresif ke pasar saham RI, seperti pergerakan rupiah dan arah suku bunga.

Sebelumnya, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun untuk semester II 2026 guna menjaga daya beli masyarakat, mendorong konsumsi domestik, serta mengantisipasi dampak ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia.

“[Terdiri dari] stimulus insentif transportasi sekitar 2,04 triliun, anggaran magang dan vokasi sekitar 6,26 triliun, dan bantuan pangan sebesar 18,04 triliun,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Senin (22/6).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Akan Tutup 800 BUMN, Prabowo: Enggak Ada yang Untung, Rugi Terus
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Zodiak yang Paling Susah Memaafkan Orang Lain
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
Korban PHK Masuk Prioritas Program Vokasi Nasional 2026
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Wamendiktisaintek Dorong Kampus Hadirkan Solusi Pengelolaan Sampah Berbasis Riset
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Messi pecahkan rekor gol Piala Dunia, Argentina lolos ke fase gugur
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.