Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) imbas gejolak geopolitik global telah membuat biaya operasional hotel bengkak, sehingga penyesuaian harga jual dilakukan di tingkat konsumen.
Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengungkapkan bahwa dampak penyesuaian harga BBM pada April lalu mulai terasa secara akumulatif pada periode Mei dan Juni. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan harga bahan baku operasional, terutama pada bahan baku makanan.
"Efektif kan April ya naik [BBM]. Itu kita sudah terasa di Mei, Juni itu untuk bahan baku, terutama makanan, itu terasa [dampak kenaikan BBM]. Hotel itu rata-rata menyesuaikan antara 5% sampai 12% untuk menu-menu di restoran," kata Hariyadi saat ditemui di acara Travel Meet Asia 2026 di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga menu tersebut merupakan langkah yang harus diambil pengelola hotel untuk mengimbangi tingginya biaya logistik.
Hariyadi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menilai biaya logistik yang tinggi menjadi beban tambahan di tengah pergerakan wisatawan mancanegara (wisman) yang banyak terdampak gejolak global pada semester pertama tahun ini.
Sementara itu di lingkup domestik, daya beli masyarakat juga dinilai masih menjadi tantangan. PHRI mencatat adanya penurunan belanja wisatawan domestik, kendati pergerakan wisatawan cenderung stabil.
Baca Juga
- Bos Danantara Ungkap Opsi Hotel Sultan Dirobohkan, Mau Dibangun Apa?
- Hotel Sahid (SHID) Incar Pendapatan Rp155,8 Miliar pada 2026
- Okupansi Hotel Bintang Turun 2,11% per Maret 2026, Ini Sebabnya
"Kalau dari volume wisatawan, trafiknya masih naik, tapi spending-nya kecil. Untuk harga kamar saja, kalau rata-rata mungkin [turun] sekitar 5%," imbuhnya.
Selain melemahnya daya beli, Hariyadi juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah terkait efisiensi anggaran perjalanan dinas. Pemotongan alokasi perjalanan dinas kementerian dan lembaga (K/L) dinilai lebih terasa dampaknya terhadap sektor perhotelan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kendati demikian, memasuki semester II/2026, dia menilai terdapat sejumlah sinyal positif yang dapat mendukung pertumbuhan sektor pariwisata Tanah Air.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang mengarah kepada kesepakatan damai diharapkan dapat memberikan kepastian bagi rantai pasok global, sehingga biaya energi dan logistik juga berangsur turun.
Di samping itu, Hariyadi menyebut bahwa upaya promosi terus dilakukan pelaku usaha pariwisata bersama sektor terkait agar kunjungan wisatawan dapat terjaga.
“Kalau harga BBM-nya turun, otomatis biaya logistik juga turun. Bagaimanapun, pasar selalu mencari keseimbangan baru. Tidak mungkin bertahan di harga mahal terus, siapa yang mau beli juga, oleh karenanya dia harus turun,” tegasnya.





