Bisnis.com, JAKARTA — Belum masuknya insentif kendaraan listrik dalam paket stimulus ekonomi semester II/2026 berpotensi mengurangi upaya percepatan adopsi kendaraan listrik nasional. Meski demikian, pelaku industri menilai pertumbuhan pasar EV tetap dapat berlanjut apabila pengembangan ekosistem dilakukan secara konsisten.
Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto mengatakan perusahaan menyambut positif berbagai upaya pemerintah untuk mendorong pengembangan kendaraan listrik, termasuk melalui pemberian insentif pembelian.
Menurutnya, insentif dapat menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia.
“Kami menyambut positif berbagai upaya pemerintah dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik, termasuk wacana insentif yang dapat menjadi salah satu enabler percepatan adopsi EV,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/6/2026).
Meski demikian, Frans menilai keputusan konsumen membeli kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh insentif, tetapi juga dipengaruhi faktor lainnya seperti nilai produk, kesiapan infrastruktur pengisian daya, serta kebutuhan mobilitas masyarakat juga menjadi pertimbangan utama dalam proses pembelian.
“Keputusan pembelian konsumen tidak semata dipengaruhi oleh insentif, melainkan juga kombinasi faktor seperti value produk, kesiapan infrastruktur, serta kebutuhan mobilitas yang terus berkembang,” ujarnya.
Baca Juga
- Hyundai Motor Incar Sektor Hilirisasi Mineral Kritis, Tegaskan Komitmen Investasi di RI
- Hyundai Bidik Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik saat Harga BBM Naik
- Insentif Mobil Listrik Ditunda Lagi, Tak Masuk Stimulus Ekonomi Semester II/2026
Pernyataan tersebut muncul di tengah belum adanya kepastian mengenai realisasi insentif kendaraan listrik yang sebelumnya sempat diwacanakan pemerintah sebagai bagian dari stimulus ekonomi pada paruh kedua tahun ini.
Meski belum ada tambahan stimulus, Hyundai menilai pasar kendaraan listrik nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar.
Menurut Frans, prospek pertumbuhan tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pembangunan ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh.
“Oleh karena itu, kami melihat pasar EV tetap memiliki potensi tumbuh secara sehat selama ekosistemnya dibangun secara konsisten,” ujarnya.
Untuk menjaga minat konsumen, Hyundai mengaku akan tetap berfokus memperkuat portofolio kendaraan listrik, meningkatkan pengalaman pelanggan, serta memperluas kolaborasi dalam pengembangan infrastruktur pendukung.
Selain itu, perusahaan juga menawarkan skema yang memungkinkan calon konsumen mencoba kendaraan listrik sebelum memutuskan melakukan pembelian.
Melalui layanan Hyundai Subscribe, pelanggan dapat menggunakan kendaraan listrik Hyundai dalam jangka waktu tertentu sebelum mengambil keputusan membeli kendaraan. Program tersebut mencakup sejumlah model kendaraan listrik Hyundai seperti IONIQ 5, IONIQ 5 N, KONA Electric, dan KONA N Line.
“Pelanggan dapat merasakan pengalaman berkendara dengan model seperti IONIQ 5, IONIQ 5 N, KONA, dan KONA N Line selama minimal satu tahun sebelum memutuskan untuk membeli,” kata Frans.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi keraguan konsumen terhadap kendaraan listrik sekaligus mempercepat proses adopsi melalui pengalaman penggunaan secara langsung.
Hyundai menilai pengembangan pasar kendaraan listrik ke depan akan ditentukan oleh kombinasi kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, inovasi produk, serta meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat kendaraan listrik.





