Artis Asmara Abigail menjadi juri untuk kompetisi Bucheon Choice: World Features di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) ke-30. Asmara didapuk sebagai juri usai mendapat tawaran dari Festival Programmer BIFAN, Kim Young Woo.
"Momen itu terjadi ketika saya sedang berada di Paris, setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Cannes Film Festival," kata Asmara kepada kumparan.
Tawaran dari Kim Young Woo membuat Asmara merasa sangat terkejut sekaligus terhormat. Asmara semakin bahagia setelah mengetahui bahwa ia akan bersanding bersama sutradara Yukisada Isao dari Jepang, sutradara Banjong Pisanthanakun dari Thailand, dan produser Korea Selatan Byun Seung-min.
"Mereka adalah nama-nama yang saya hormati dan karya-karyanya telah memberikan kontribusi besar bagi sinema Asia," tutur Asmara.
Perasaan Asmara Abigail Jadi Juri di BIFANMenjadi juri di BIFAN, menurut Asmara, merupakan sesuatu yang bermakna untuk dirinya. Apalagi Asmara sebelumnya dipercaya menjadi juri di Locarno Film Festival yang ke-75 pada 2025.
"Kini saya kembali mendapat kepercayaan untuk menjadi bagian dari salah satu festival film genre paling bergengsi di Asia," ucap Asmara.
Pemain film Perempuan Tanah Jahanam itu mengatakan mendapat kepercayaan sebagai juri di BIFAN bukan hanya sebuah pencapaian pribadi.
"Tetapi juga sebagai kesempatan untuk membawa perspektif saya sebagai aktor dan sineas Indonesia ke dalam percakapan sinema internasional," ungkap Asmara.
Asmara percaya menjadi juri dalam sebuah festival bukan hanya tentang memilih film terbaik. Hal itu juga menjadi kesempatan untuk berdialog, saling belajar, dan merayakan keberagaman bahasa sinema bersama para pembuat film dari berbagai belahan dunia.
Sebagai juri Bucheon Choice: World Features, Asmara akan menonton dan memberikan penilaian terhadap 11 film yang berkompetisi di kategori tersebut.
"Seluruh film akan kami diskusikan bersama dewan juri sebelum menentukan para pemenangnya," kata Asmara.
Asmara mengatakan tidak ada film Indonesia dalam kategori Bucheon Choice: World Features. Namun, ia merasa senang karena tahun ini perfilman Indonesia tetap hadir di BIFAN lewat film-film yang diputar di program lain.
"Menurut saya, ini menunjukkan bahwa karya-karya sineas Indonesia semakin mendapat perhatian di festival-festival internasional," tutur Asmara.
Asmara mengungkapkan proses penjurian akan dimulai dengan menonton seluruh film yang berkompetisi. Kemudian para dewan juri akan berdiskusi sebelum mengambil keputusan.
Untuk kriteria penilaian, Asmara mengatakan, secara pribadi, ia selalu tertarik pada film yang memiliki visi yang kuat dari sutradaranya. Ia suka karya yang terasa jujur.
"Ketika seorang sutradara benar-benar memahami apa yang ingin ia sampaikan, tidak berpura-pura menjadi orang lain, dan tidak membuat film hanya untuk mengejar validasi atau mengikuti tren," ucap Asmara.
Perempuan 34 tahun itu mengungkapkan tantangan terbesar menjadi seorang juri adalah menjaga keseimbangan antara perspektif pribadi dan keterbukaaan terhadap konteks budaya yang melahirkan sebuah film.
"Setiap sineas datang dari latar belakang yang berbeda. Cara mereka bercerita, membangun karakter, ritme film, hingga simbol-simbol yang digunakan sering kali dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan realitas sosial di negara masing-masing. Sebagai juri, saya harus berusaha memahami konteks tersebut sebelum memberikan penilaian," kata Asmara.
Di saat yang sama, Asmara percaya bahwa film yang baik selalu memiliki kemampuan untuk melampaui batas budaya.
"Meskipun kita berasal dari negara yang berbeda, emosi, kemanusiaan, dan kejujuran dalam sebuah karya dapat dirasakan oleh siapa pun," ucapnya.





