Potensi relokasi pabrik komponen otomotif asal Jepang ke Vietnam menjadi perhatian serius kalangan buruh dan pemerintah. Pasalnya, langkah tersebut berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja di Jawa Timur.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan saat ini terdapat dua perusahaan komponen otomotif yang tengah menghadapi ancaman relokasi sebagian produksi ke Vietnam.
Menurut dia, kedua perusahaan tersebut berlokasi di Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur. Namun, pihaknya belum mengungkap identitas perusahaan secara terbuka karena proses negosiasi antara manajemen dan serikat pekerja masih berlangsung.
"Untuk dua perusahaan saya kasih inisialnya PTJ dan PTS. Kenapa saya belum sebut? Karena perusahaan itu masih negosiasi dengan serikat pekerjanya. Sudah hampir setahun negosiasi itu," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KSPI.
Ia menjelaskan, rencana pemindahan produksi tersebut berasal dari keputusan prinsipal di Jepang. Namun demikian, kondisi tersebut bukan berarti iklim investasi Indonesia tidak menarik bagi industri otomotif.
"Kalau ditanya alasannya pindah, itu karena keputusan prinsipal. Bukan berarti investasi di Indonesia tidak menarik. Mereka tidak menyatakan tidak menarik. Buktinya mereka tetap ada, hanya sebagian dipindahkan," katanya.
Said Iqbal menilai keputusan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan strategi bisnis dan ekspansi jaringan produksi perusahaan di kawasan Asia Pasifik.
Dari sisi ketenagakerjaan, dampak yang ditimbulkan berpotensi cukup besar. PTJ disebut memiliki sekitar 7.000 pekerja, sementara PTS mempekerjakan lebih dari 4.000 orang.
"Memang kemungkinan baru omong-omong ya. Untuk PTJ disebut sekitar 4.000 pekerja terdampak. Kalau PTS sekitar 3.000. Tapi saya kira itu masih pembicaraan awal," ujarnya.
Untuk mencegah relokasi tersebut, KSPI bersama pemerintah berencana melakukan serangkaian langkah mitigasi. Salah satunya dengan menggelar pertemuan bersama Menteri Perindustrian yang akan melibatkan manajemen perusahaan dan serikat pekerja.
Selain itu, Said Iqbal juga berencana menggunakan jalur komunikasi dengan serikat buruh di Jepang untuk membantu meyakinkan prinsipal agar tetap mempertahankan aktivitas produksinya di Indonesia.
Baca Juga: Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam, Begini Respons Kemnaker
"Saya akan menggunakan jalur internasional melalui serikat buruh Jepang agar mereka tidak pindah ke Vietnam," kata dia.
Meski demikian, Said Iqbal menegaskan rencana relokasi tersebut belum menjadi keputusan final. Menurut informasi yang diterimanya, pemindahan produksi baru berpotensi terjadi dalam satu hingga dua tahun mendatang sehingga masih tersedia ruang untuk melakukan negosiasi.
"Pemindahan itu tidak semudah itu. Kemungkinan mereka menyebut satu sampai dua tahun ke depan. Berarti kita masih punya waktu untuk bernegosiasi," tutupnya.





