JAKARTA, DISWAY.ID-- Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bakal mengevaluasi program city tour atau tur kota perhajian menyusul adanya indikasi kelelahan yang dialami sebagian peserta haji akibat padatnya aktivitas pra dan pascapuncak ibadah haji.
“Kita amati lagi memang pasca Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) banyak yang langsung diajak city tour, diajak ke mana-mana, yang membuat mereka lelah. Sehingga kita akan mengevaluasi lagi kebijakan kita tentang city tour,” ujar Menhaj Mochamad Irfan Yusuf di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Selasa, 23 Juni 2026.
BACA JUGA:John Herdman Yakin Timnas Indonesia akan Berlaga di Piala Dunia 2030
Gus Irfan menyampaikan sejumlah peserta haji diketahui langsung mengikuti kegiatan kunjungan ke berbagai lokasi sebelum maupun setelah menyelesaikan rangkaian Armuzna.
Aktivitas tersebut mencakup perjalanan ke sejumlah destinasi di luar Makkah, seperti Thaif dan Jeddah.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada kesehatan jemaah, terutama mengingat tingginya tingkat kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah haji yang padat.
“ini dapat sangat mempengaruhi kesehatan jemaah kita,” kata dia.
BACA JUGA:Sebanyak 120 Jemaah Haji Masih Jalani Perawatan di RS Arab Saudi, Ini Kata Menhaj
Menhaj menegaskan aspek kesehatan dan keselamatan jemaah akan menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan kebijakan penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya.
Menurut dia, hingga hari ini ada 350 orang yang wafat di Arab Saudi. Mayoritas mereka yang wafat karena pneumonia dan faktor kelelahan karena aktivitas berat tanpa dibarengi kondisi fisik yang prima.
“Sebagian, sebagian karena pernapasan, Pneumonia. Tapi juga sebagian besar karena kelelahan. Karena itu kita pantau sebagian besar yang meninggal itu, yang meningkat itu setelah pasca Armuzna,” ujar Gus Irfan.
BACA JUGA:Diler Modern Premium Mitsubishi Motors di Tengah Kota Jakarta
Di samping itu, Kemenhaj juga akan memperkuat istithaah kesehatan demi menekan angka perawatan dan meninggal dunia yang saat ini jumlahnya masih tinggi.
“Selama ini kita sudah punya standar kesehatan istitaah, hanya saja memang kita akui ada perbedaan pelaksanaannya di beberapa daerah. Ada daerah yang bagus menjalankannya, ada yang kurang bagus, sehingga ini juga menjadi salah satu tugas kami untuk bisa menyamaratakan standar istithaah kesehatan kita,” kata dia.




