Jakarta: Jakarta merupakan salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. Emisi dari kendaraan bermotor, industri, dan aktivitas rumah tangga membentuk lapisan polutan yang sulit diurai kebijakan tunggal dari satu arah.
Inisiatif warga dinilai menjadi kunci untuk memperkuat berbagai bentuk intervensi kebijakan pemerintah dalam menanggulangi polusi udara di Jakarta. Dalam kegiatan Forum Udara Warga bertajuk Udara Kita, Suara Kita di Tebet Eco Park, sejumlah warga Jakarta membahas polusi udara secara langsung.
Selain berbagi pengalaman pribadi, warga bertukar pandangan tentang inisiatif yang lahir dari komunitas untuk mengurai polusi udara. Penggerak masyarakat dan penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, Ajie, mengatakan forum seperti ini membuka ruang bagi warga untuk saling belajar dari praktik yang sudah dilakukan komunitas lain.
Menurut dia, forum ini menjadi wadah mendengar pengalaman warga lain dalam menghadapi tantangan serupa dan cara masing-masing untuk mengatasinya.
“Harapannya, nanti semakin banyak anak muda yang ikut terlibat,” ujar Ajie, dalam keterangannya, dikutip pada Selasa, 23 Juni 2026.
Forum dibuka dengan sesi berbagi pengalaman dari penggerak komunitas yang selama ini bekerja di kelurahan masing-masing. Penggerak masyarakat dari Penjaringan, Kebayoran Lama Selatan, Kebon Kosong, hingga Semper Barat, membawa cerita inisiatif bank sampah, kebun komunitas, transisi energi rumah tangga, dan advokasi ruang terbuka hijau yang tumbuh dari kebutuhan warga yang paling nyata.
Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawat, mengapresiasi model partisipasi komunitas, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas dukungan terhadap inisiatif warga yang sudah terbukti berjalan.
“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ungkap Rahmawat.
Forum ini sekaligus menjadi momentum peluncuran kembali platform Jakarta Rendah Emisi atau JRE sebagai ruang diskusi yang terus hidup setelah forum selesai. Breathe Cities Jakarta menegaskan platform ini dirancang sebagai kanal bersama antara warga, CSO, dan pemda untuk terus memantau, berbagi, dan mendorong aksi di tingkat lokal.
Indonesia Country Coordinator di Vital Strategies, Imelda Maidir, selaku perwakilan Breathe Cities Jakarta, berharap pertemuan dan perbincangan antar-warga ini terus berlanjut. Salah satunya menggunakan platform JRE.
"Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari," ujar Imelda.
Baca Juga: Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia, Jangan Lupa Pakai Masker!
Ilustrasi polusi udara di Jakarta. Foto- Medcom.id/Husen
Inisiatif Komunitas dari Tapak Di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, persoalan polusi udara bukan abstraksi. Kawasan ini berbatasan langsung dengan delapan titik kawasan bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok, dengan lalu lintas kontainer berat yang setiap hari memenuhi jalan-jalan permukiman dengan emisi diesel.
Paparan polutan di kawasan ini bersifat harian dan berlapis, menyebabkan kondisi udara buruk yang berdampak pada kesehatan seperti gangguan pernapasan. Salah satu sumber yang kerap luput dari perhatian adalah pembakaran sampah terbuka.
Di permukiman padat perkotaan, praktik ini menjadi salah satu penyumbang emisi PM2.5 yang langsung berdampak pada kesehatan warga di sekitarnya, terutama anak-anak dan lansia yang paling lama berada di dalam dan sekitar rumah.
Penggerak Bank Sampah Kenanga di RW 004, Nur Fiyah, menjelaskan bagaimana inisiatif yang bermula dari pemilahan sampah kini bergeser menjadi advokasi ruang hidup.
"Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri," kata Nur.
Sejak 2017, Bank Sampah Kenanga berkembang hingga melayani lebih dari 600 nasabah aktif. Tabungan sampah dikonversi untuk biaya pendidikan, persalinan, dan modal usaha warga. Sanksi terhadap pembakaran sampah liar diterapkan bukan melalui peraturan formal, melainkan kesepakatan bersama warga.
Ke depan, Nur Fiyah mengatakan komunitas tengah menyiapkan rencana untuk menggunakan hasil bank sampah guna mengaktivasi ruang-ruang terbuka hijau di sekitar permukiman, terutama untuk ruang bermain anak.
Dia menyampaikan, warga dan pemerintah setempat telah menghijaukan bekas lahan parkir kontainer sebagai taman. Mereka sedang membangun waduk untuk melengkapi ruang terbuka hijau dari inisiatif warga ini.
"Kami mau anak-anak kami punya tempat bermain yang layak dan udara yang bisa dihirup dengan tenang," kata Nur.




