Pantau - Ancaman rabies di Bali kembali jadi sorotan DPR. Risiko penularan meningkat. Dampak menyentuh kesehatan warga dan sektor pariwisata.
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Ni Putu Tutik Kusuma Wardhani, meminta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan ketersediaan vaksin antirabies (VAR) dan serum antirabies (SAR tetap aman.
Bali memiliki populasi anjing tinggi. Risiko penyebaran rabies ikut meningkat. Kondisi ini berdampak pada citra pariwisata.
“Saya meminta agar Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan vaksin antirabies dan serum antirabies benar-benar mencukupi. Bali memiliki populasi anjing yang sangat tinggi dan ini menjadi perhatian penting bagi masyarakat Bali yang mengandalkan sektor pariwisata,” ujar Tutik kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).
Rabies dinilai tidak bisa dianggap ringan. Dampak ekonomi bisa muncul. Pariwisata Bali bergantung pada rasa aman wisatawan.
Duduk di komisi yang membidangi kesehatan, ia mendorong kolaborasi lintas kementerian. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, serta pemerintah daerah diminta bergerak bersama.
“Program nasional harus benar-benar terimplementasi sampai ke daerah. Jangan hanya berhenti di tingkat pusat. Di lapangan, gerakan pencegahan rabies masih berjalan secara parsial dan belum terkoordinasi secara menyeluruh,” katanya.
Koordinasi lintas daerah dinilai penting. Sistem otonomi daerah memerlukan komunikasi kuat antar instansi.
“Komunikasi dan kolaborasi sampai ke tingkat daerah sangat penting. Semua pihak harus bergerak bersama agar program dapat berjalan efektif,” ucap legislator dari dapil Bali tersebut.




