Wall Street AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6), dengan indeks Nasdaq dan S&P 500 menyentuh level terendah dalam lebih dari satu pekan setelah aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor.
Mengutip Reuters pada Rabu (24/6), indeks Nasdaq Composite turun 579,56 poin atau 2,21 persen menjadi 25.587,04. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 107,32 poin atau 1,44 persen ke level 7.365,47. Adapun indeks Dow Jones Industrial Average turun lebih terbatas, yakni 47,22 poin atau 0,09 persen menjadi 51.665,49.
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) anjlok 7,9 persen, sedangkan indeks teknologi informasi S&P 500 turun 3,7 persen. Saham Nvidia turun 4,1 persen, sementara Alphabet melemah 1 persen.
Produsen chip lainnya juga mengalami tekanan berat. Saham Intel, Marvell Technology, dan AMD masing-masing turun antara 5,8 persen hingga 9,4 persen.
Senior Portfolio Manager Globalt, Thomas Martin, mengatakan pasar mulai mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan belanja besar-besaran untuk pengembangan AI.
“Sejumlah berita belakangan ini mengenai AI menimbulkan pertanyaan tentang besarnya belanja yang dilakukan perusahaan, belanja modal (capex), dan peningkatan kapasitas produksi semikonduktor,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap pembiayaan proyek AI melalui utang turut memicu aksi jual. Salah satu sorotan datang dari SpaceX yang baru melantai di bursa bulan ini dan ikut bergabung dengan daftar perusahaan raksasa yang memanfaatkan pasar obligasi untuk menghimpun modal. Meski demikian, saham SpaceX justru naik 1 persen setelah mengalami penurunan dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya.
Saham produsen chip memori yang sebelumnya menjadi bintang pasar tahun ini juga terkena tekanan. Saham Micron Technology dan SanDisk masing-masing merosot sekitar 13 persen.
Pasar kini menanti laporan keuangan Micron yang akan dirilis pada Rabu (24/6) untuk mendapatkan gambaran mengenai prospek industri chip memori dan AI setelah reli tajam sepanjang tahun ini.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam sektor berhasil mencatat kenaikan. Sektor barang konsumsi pokok (consumer staples) menjadi yang terbaik dengan kenaikan 1,8 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan sebagian investor mulai mengalihkan dana dari saham teknologi yang valuasinya dinilai mahal ke sektor-sektor yang lebih defensif. Pelaku pasar juga semakin yakin The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Berdasarkan data LSEG, investor kini mulai memperhitungkan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga hingga Desember, dibandingkan hanya satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin yang diperkirakan dua pekan lalu.
Ekspektasi itu muncul setelah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan sikap kebijakan yang lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya.
Investor kini menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang akan dirilis Kamis (25/6). Selain faktor ekonomi, pasar juga terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Secara keseluruhan, saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik. Di Bursa New York (NYSE), rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,31 banding 1. Tercatat 120 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 187 saham menyentuh level terendah baru.
Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.181 saham menguat dan 2.636 saham melemah. Indeks S&P 500 mencatat 12 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan lima rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq membukukan 132 rekor tertinggi baru dan 182 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa AS mencapai 24,1 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di level 22,53 miliar saham.





