Katalis IHSG dari MSCI, Pembukaan Pembekuan Saham Jadi Kunci

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) menilai keputusan MSCI mempertahankan Indonesia di kelompok Emerging Market menjadi katalis positif bagi indeks Harga saham gabungan (IHSG). Ke depan, pelaku pasar mengharapkan pengumuman terkait pembukaan pembekuan saham

Tim analis SSI yang terdiri dari Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar menyebut ukuran pasar dan likuiditas Indonesia masih cukup kuat untuk mempertahankan posisi sebagai Emerging Market.

“Kami meyakini probabilitas reclass ke Frontier Market masih rendah dalam jangka pendek, mengingat ukuran pasar dan likuiditas Indonesia yang masih memadai,” tulis SSI dalam risetnya, Rabu (24/6/2026).

Meski demikian, SSI menilai katalis utama bagi pasar saham Indonesia ke depan bukan hanya terkait klasifikasi, melainkan pada potensi pembukaan kembali freeze MSCI terhadap inklusi saham-saham baru dalam indeks.

Menurut SSI, pencabutan kebijakan tersebut akan membuka kembali peluang masuknya saham-saham Indonesia ke dalam indeks MSCI, yang berpotensi memicu arus dana pasif (passive inflows) serta memperbaiki sentimen pasar.

Lifting freeze akan membuka kembali peluang saham Indonesia yang memenuhi syarat untuk masuk indeks MSCI, sehingga berpotensi menarik inflow dan meningkatkan sentimen pasar,” tulis SSI.

Baca Juga

  • OJK: Laporan MSCI Sesuai Ekspektasi, Pacu Reformasi Pasar Modal
  • Rapor MSCI: Bursa RI Kuat di Regulasi dan Infrastruktur Pasar
  • MSCI Apresiasi Reformasi OJK-BEI, Masih Ada Risiko ke Frontier Market

SSI menambahkan, sejumlah emiten Indonesia saat ini telah memenuhi persyaratan kuantitatif untuk masuk ke indeks MSCI. Karena itu, setiap sinyal bahwa MSCI akan kembali menjalankan mekanisme inklusi normal dinilai akan menjadi sentimen positif bagi indeks Harga saham gabungan (IHSG).

Dalam risetnya, SSI mencatat MSCI kembali mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market, sehingga menghindarkan risiko forced selling dari dana pasif yang mengikuti indeks MSCI Emerging Markets.

Namun demikian, MSCI masih menyoroti sejumlah isu struktural, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham, penentuan free float, serta indikasi pola perdagangan yang dinilai terkoordinasi, yang masih membebani penilaian investability pasar Indonesia.

Di sisi lain, MSCI juga mengakui berbagai reformasi yang telah dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan kepemilikan di atas 1%, penguatan kerangka Holding Securities Classification (HSC), klasifikasi investor yang lebih granular, hingga roadmap peningkatan batas free float minimum menjadi 15%.

Meski demikian, SSI menekankan bahwa MSCI akan menilai efektivitas reformasi tersebut berdasarkan implementasi dan dampaknya secara berkelanjutan, bukan hanya dari sisi kebijakan.

MSCI juga disebut akan terus memantau progres reformasi tersebut. Jika pada MSCI Index Review November 2026 belum terlihat kemajuan yang memadai, MSCI dapat mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk konsultasi terkait potensi penurunan Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkes: Nggak Tahu Kenapa, Sekarang Banyak Orang Antivaksin
• 23 jam laludetik.com
thumb
Jangan Lupa Puasa Tasu’a dan Asyura, Ini Jadwalnya Menurut Pemerintah, Muhammadiyah dan PBNU
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Media Portugal Minta Cristiano Ronaldo Berhenti Kejar Rekor Lionel Messi di Piala Dunia
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Simak Pidato Mendiktisaintek di Global Sustainable Development Congress 2026
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Danantara Tunjuk Sigit dan Rachmat Kaimuddin Pimpin Development Management Fund
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.