Gunung Anak Krakatau Keluarkan Asap, Wisatawan Dilarang Mendekat

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mengeluarkan asap dari kawah dengan ketinggian mencapai 200 meter di atas puncak. Wisatawan dilarang beraktivitas maupun berwisata di kawasan tersebut dalam radius dua kilometer karena aktivitas gunung api itu masih fluktuatif.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada Selasa (23/6/2026), aktivitas kegempaan masih terjadi di Gunung Anak Krakatau. Pada pukul 00.00-24.00 WIB, tercatat 35 kali gempa hembusan atau getaran lokal dengan amplitudo 3,9-35,6 milimeter dan durasi 8-59 detik. Selain itu, terjadi 20 kali gempa frekuensi rendah (low frequency) dengan amplitudo 23,6-47,7 milimeter dan durasi 6-26 detik.

Adapun gempa hybrid atau fase banyak terjadi sebanyak 33 kali dengan amplitudo 3-39,5 milimeter dan durasi 3-51 detik. Gempa mikrotremor juga terus-menerus terjadi dengan amplitudo 0,5-6 milimeter.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suardi, mengatakan bahwa asap putih yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau terlihat cukup jelas. Secara visual, asap kawah berwarna putih teramati dengan ketinggian 10-200 meter di atas puncak. Aktivitas gunung api itu memang sedikit meningkat dibandingkan beberapa hari sebelumnya ketika tidak terlihat mengeluarkan asap.

Meski demikian, Andi menjelaskan, kemunculan asap tebal bukan disebabkan oleh aktivitas erupsi. Asap tersebut berasal dari fumarol, yakni celah pada kerak bumi yang mengeluarkan uap air dan berbagai gas vulkanik ke permukaan.

“Gunung Anak Krakatau tidak erupsi. Itu hanya asap putih tipis sampai tebal dari fumarol di kawahnya,” kata Andi saat dihubungi dari Bandar Lampung, Rabu (24/6/2026).

Selama dua tahun terakhir, aktivitas Anak Krakatau relatif tenang. Gunung api setinggi 157 meter di atas permukaan laut itu cukup lama tidak mengalami erupsi. Kendati demikian, Andi mengingatkan bahwa Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang dapat bergejolak sewaktu-waktu.

Saat ini, gunung api tersebut masih berstatus Level II (Waspada). Masyarakat dilarang mendekati kawasan gunung api dalam radius dua kilometer dari kawah.

  

Dari catatan Kompas, Anak Krakatau pernah mengalami erupsi yang memicu tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Sebelum tsunami terjadi, aktivitas vulkanik Anak Krakatau sebenarnya sudah terpantau meningkat. Gunung api itu tercatat mengalami erupsi sejak Juni 2018 atau enam bulan sebelum sebagian tubuhnya runtuh.

Setelah rangkaian erupsi pada 2018, GAK terakhir kali tercatat mengalami erupsi pada Sabtu (16/12/2023) pukul 10.24 WIB. Sepanjang hari itu, Anak Krakatau mengalami tiga kali erupsi dengan kolom abu tertinggi mencapai 1.000 meter di atas puncak (Kompas, 16/12/2023).

Baca JugaAnak Krakatau Erupsi Belasan Kali, Semburkan Abu Vulkanik hingga 2.000 Meter
Ditutup  

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Itno Itoyo, menegaskan bahwa kawasan Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau tertutup untuk kegiatan wisata massal. Wisatawan dilarang mendarat dan beraktivitas di Kepulauan Krakatau.

Meski telah memasang papan larangan di sejumlah lokasi dan melakukan sosialisasi melalui media sosial, petugas patroli masih kerap menemukan wisatawan yang berwisata di kawasan Gunung Anak Krakatau. Bahkan, ada wisatawan yang nekat mendaki hingga ke puncak kawah.

“Kepulauan Krakatau merupakan kawasan cagar alam yang statusnya tertutup untuk kegiatan pariwisata massal. Aktivitas yang diperbolehkan sebatas penelitian, pendidikan, dan kegiatan lain yang menunjang budidaya,” kata Itno.

Sejumlah rekaman video yang diunggah ke media sosial juga menunjukkan tingginya kunjungan wisatawan ke kawasan Gunung Anak Krakatau. Sejumlah wisatawan mengunggah aktivitas pendakian hingga mendekati puncak. Bahkan, sejumlah agen perjalanan secara terbuka menawarkan paket wisata ke Anak Krakatau dengan tarif ratusan ribu rupiah.

Itno mengatakan, wisatawan biasanya datang ke kawasan tersebut melalui dua jalur, yakni dari Lampung dan Banten. Mereka menyewa kapal motor untuk dapat mendarat di sana. “Wisatawan yang berkunjung ke kawasan GAK (Gunung Anak Krakatau) kebanyakan berasal dari Jabodetabek. Mereka biasanya mengikuti kegiatan wisata open trip,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, cagar alam hanya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan terbatas, seperti penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. Ketentuan itu berlaku karena cagar alam berfungsi sebagai kawasan perlindungan ekosistem.

Selain melakukan sosialisasi secara langsung, BKSDA juga telah memasang sejumlah papan larangan. Masyarakat diminta tidak mendekati GAK maupun seluruh Kepulauan Krakatau karena termasuk kawasan rawan bencana. BKSDA berharap para pelaku jasa wisata mematuhi larangan tersebut dan tidak lagi menawarkan paket wisata pendakian ke GAK karena dapat membahayakan keselamatan wisatawan.

Baca JugaSetelah 142 Tahun Letusan Krakatau, Bagaimana Kondisi Anak Krakatau Sekarang?

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo ke Gorontalo Hari Ini, Hadiri Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Wamentan: Indonesia Tak Impor Beras, Jagung, dan Gula Lagi
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Taufik Hidayat Penyekap Wanita Selama 3 Tahun Ditangkap!
• 22 jam laludetik.com
thumb
President Prabowo Plans B50 Biodiesel Launch in July  
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Akhir Damai BMW Dirusak Massa Usai Tabrak Motor di Jakbar
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.