Denpasar (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital dalam sektor pertanian guna mempercepat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu, menilai pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang lebih efisien dan rendah emisi.
"Berbagai inovasi saat ini telah tersedia untuk membantu petani mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani," kata Puji dalam acara pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR - Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Bali.
Beberapa teknologi yang mulai berkembang antara lain metode pengairan berselang pada sawah, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, pemanfaatan varietas unggul, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem pemantauan emisi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca juga: Wali Kota Denpasar tetapkan Sanur jadi kawasan rendah emisi
"Berita baiknya, berbagai alat dan teknologi untuk mendukung pertanian rendah emisi saat ini sudah tersedia dan semakin mudah diakses," ujarnya.
Puji menjelaskan teknologi digital juga dapat mendukung sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi atau Monitoring, Reporting and Verification (MRV) yang lebih akurat dan mudah diterapkan, termasuk oleh petani skala kecil.
Meski demikian, ia mengingatkan keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada ketersediaan inovasi, tetapi juga dukungan investasi, penyesuaian terhadap kondisi lokal, serta kebijakan yang mampu memperluas penerapan teknologi dari tahap percontohan menuju skala yang lebih besar.
Menurutnya, salah satu tantangan utama saat ini adalah masih terbatasnya pengetahuan dan kapasitas petani dalam mengakses serta memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Baca juga: Indonesia persiapkan transisi pertanian rendah emisi
Selain itu, sistem pelaporan emisi yang masih beragam antarnegara juga menjadi kendala dalam mengukur dampak pengurangan emisi secara lebih terstandarisasi.
Melalui forum tersebut, BRIN mendorong kolaborasi negara-negara Asia dan Afrika untuk saling berbagi pengalaman dalam penerapan teknologi pertanian rendah emisi, termasuk pengembangan sistem digital yang mendukung pencapaian target iklim global.
Puji menegaskan inovasi teknologi harus mampu menjangkau petani secara langsung agar transformasi pertanian rendah emisi dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu, menilai pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang lebih efisien dan rendah emisi.
"Berbagai inovasi saat ini telah tersedia untuk membantu petani mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani," kata Puji dalam acara pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR - Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Bali.
Beberapa teknologi yang mulai berkembang antara lain metode pengairan berselang pada sawah, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, pemanfaatan varietas unggul, teknologi penginderaan jauh, hingga sistem pemantauan emisi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca juga: Wali Kota Denpasar tetapkan Sanur jadi kawasan rendah emisi
"Berita baiknya, berbagai alat dan teknologi untuk mendukung pertanian rendah emisi saat ini sudah tersedia dan semakin mudah diakses," ujarnya.
Puji menjelaskan teknologi digital juga dapat mendukung sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi atau Monitoring, Reporting and Verification (MRV) yang lebih akurat dan mudah diterapkan, termasuk oleh petani skala kecil.
Meski demikian, ia mengingatkan keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada ketersediaan inovasi, tetapi juga dukungan investasi, penyesuaian terhadap kondisi lokal, serta kebijakan yang mampu memperluas penerapan teknologi dari tahap percontohan menuju skala yang lebih besar.
Menurutnya, salah satu tantangan utama saat ini adalah masih terbatasnya pengetahuan dan kapasitas petani dalam mengakses serta memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Baca juga: Indonesia persiapkan transisi pertanian rendah emisi
Selain itu, sistem pelaporan emisi yang masih beragam antarnegara juga menjadi kendala dalam mengukur dampak pengurangan emisi secara lebih terstandarisasi.
Melalui forum tersebut, BRIN mendorong kolaborasi negara-negara Asia dan Afrika untuk saling berbagi pengalaman dalam penerapan teknologi pertanian rendah emisi, termasuk pengembangan sistem digital yang mendukung pencapaian target iklim global.
Puji menegaskan inovasi teknologi harus mampu menjangkau petani secara langsung agar transformasi pertanian rendah emisi dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.





