Kredit Himbara Masih Tumbuh Dua Digit, BBCA Andalkan Pendapatan Non-Bunga

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Himbara masih mampu membukukan pertumbuhan kredit dua digit hingga Mei 2026.

Kredit Himbara Masih Tumbuh Dua Digit, BBCA Andalkan Pendapatan Non-Bunga (Foto: dok Frepik)

IDXChannel - Pertumbuhan kredit bank-bank besar nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi sepanjang 2026. 

Riset Stockbit mencatat, bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) masih mampu membukukan pertumbuhan kredit dua digit hingga Mei 2026. 

Baca Juga:
Rosan Pastikan Prabowo Tak Berikan Arahan ke Perbankan untuk Tahan Suku Bunga Kredit

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) lebih mengandalkan pertumbuhan pendapatan non-bunga untuk menopang kinerja.

Dari tiga bank besar yang telah merilis kinerja bank-only periode Januari-Mei 2026, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 19 persen secara tahunan (yoy). 

Baca Juga:
BI Rate Jadi 5,75 Persen, Airlangga Minta Himbara Tak Buru-Buru Naikkan Suku Bunga Kredit

Kinerja tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 10 persen yoy, pertumbuhan biaya operasional yang terkendali sebesar 5 persen yoy, serta penurunan beban provisi sebesar 16 persen yoy.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan pertumbuhan laba bersih 7 persen yoy. Kenaikan NII yang mencapai 15 persen yoy berhasil mengimbangi kenaikan biaya operasional dalam besaran yang relatif sama. Namun, lonjakan beban provisi sebesar 31 persen yoy membatasi pertumbuhan laba perseroan.

Baca Juga:
BI Prediksi Pertumbuhan Kredit di Kisaran 8-12 Persen hingga Akhir 2026

Di sisi lain, BBCA mencatat pertumbuhan laba bersih yang lebih moderat sebesar 2 persen yoy. Berbeda dengan dua bank pelat merah tersebut, kinerja BBCA ditopang oleh pendapatan non-bunga yang tumbuh 9 persen yoy, sementara NII tercatat relatif stagnan dengan kontraksi tipis 1 persen yoy.

Dari sisi penyaluran kredit,  kedua bank pelat merah tersebut masih menjadi motor pertumbuhan sektor perbankan. Hingga Mei 2026, kredit BMRI tumbuh 21 persen yoy dan BBNI meningkat 25 persen yoy.

Baca Juga:
BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit hingga Akhir 2026

Menurut Stockbit Selasa (23/6/2026), meski mengesampingkan pinjaman kepada PT Agrinas Pangan Nusantara yang masing-masing mencapai sekitar Rp55 triliun per Maret 2026, pertumbuhan kredit kedua bank masih solid masing-masing 16 persen yoy dan 17 persen yoy.

Stockbit menilai, BBNI lebih efektif mengonversi pertumbuhan kredit menjadi pendapatan bunga bersih dibandingkan BMRI. Hal itu didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BBNI yang lebih seimbang antara dana murah atau current account saving account (CASA) dan deposito berjangka (time deposit/TD). 

Sebaliknya, pertumbuhan DPK BMRI lebih banyak ditopang oleh deposito berjangka yang memiliki biaya dana lebih tinggi.

Sementara BBCA mengambil pendekatan yang lebih konservatif. Hingga Mei 2026, pertumbuhan kredit perseroan hanya mencapai 5 persen yoy, masih berada di bawah target manajemen tahun ini yang berada di kisaran 8-10 persen.

Riset Stockbit juga menyoroti belum terlihatnya dampak signifikan kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kualitas aset maupun aktivitas kredit perbankan.

Pada April dan Mei 2026, posisi kredit ketiga bank tersebut masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan Maret 2026. Kredit BMRI naik 3 persen, BBNI meningkat 4 persen, dan BBCA bertambah 1 persen.

Di saat yang sama, tren pembentukan beban provisi bulanan juga belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Kondisi ini dinilai cukup menarik mengingat kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah biasanya mendorong perbankan untuk memperlambat ekspansi kredit dan meningkatkan pencadangan sebagai langkah antisipatif.

"Absennya kedua hal ini menjadi indikasi bahwa kondisi makroekonomi domestik lebih resilien dibandingkan yang sebelumnya dikhawatirkan, atau terdapat optimisme bahwa tekanan akibat kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah hanya bersifat sementara," tulis Stockbit dalam risetnya.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dasco Telepon Dirut Pertamina Bahas Ancaman PHK
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Dukung MUI Soal Penindakan LGBT, KAMMI: Sudah Mengancam Kesehatan Generasi Muda
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
SAR Banyuwangi dan Angkasa Pura perkuat operasi SAR kecelakaan pesawat
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Ronaldo Bersinar! Portugal Gilas Uzbekistan 5-0 di Grup K
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
Prediksi Cuaca BMKG 24 Juni 2026: Bibit Siklon dan Sirkulasi Siklonik Picu Hujan di Sejumlah Daerah
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.