Wapres JD Vance: AS dan Iran Sepakati Kerangka Perdamaian, Iran Setuju Mengizinkan Inspeksi Nuklir Kembali

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada Senin (22 Juni) menyatakan bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berjalan dengan baik dan telah meletakkan dasar yang kuat untuk tercapainya kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.

Isi pembicaraan kali ini mencakup persetujuan Iran untuk mengizinkan kembali para inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memasuki Iran. Selain itu, Iran dan Amerika Serikat akan membentuk mekanisme kerja sama terkait pembukaan Selat Hormuz, koordinasi gencatan senjata di Lebanon, serta penanganan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.

Menurut negara mediator, Pakistan dan Qatar, kedua pihak telah mencapai kesepahaman mengenai sebuah peta jalan menuju perjanjian jangka panjang dengan target mengakhiri perang secara resmi dalam waktu 60 hari. Mereka juga sepakat membentuk komite tingkat tinggi untuk memberikan pengawasan politik terhadap proses mediasi.

“Kami telah meletakkan fondasi yang sangat baik untuk mencapai kesepakatan akhir yang sukses. Kesepakatan akhir itu ibarat sebuah rumah. Saat ini fondasinya sudah dibangun. Rumahnya memang belum berdiri, tetapi kami telah berhasil menyiapkan dasar yang memungkinkan kami bergerak menuju kesepakatan yang menguntungkan rakyat Amerika,” ujar JD Vance. 

Vance menambahkan bahwa salah satu hasil paling menggembirakan dari perundingan tersebut adalah kesediaan Iran mengundang kembali para inspektur IAEA.

“Ini merupakan tonggak penting bagi rakyat Amerika dan langkah pertama menuju denuklirisasi permanen Iran, atau penghentian permanen program senjata nuklir Iran. Inilah yang ingin kami capai dan yang kami minta dari Iran. Kami juga telah membuat banyak kemajuan penting dalam pembahasan isu-isu nuklir lainnya,” katanya. 

Menurut Vance, dialog mengenai pemulihan inspeksi nuklir dapat dimulai paling cepat minggu ini. Dalam beberapa hari dan minggu mendatang, tim teknis kedua negara akan terus melanjutkan negosiasi.

Ia juga menegaskan bahwa apabila Iran tidak mematuhi kesepakatan, Amerika Serikat masih memiliki instrumen ekonomi yang kuat untuk memberikan tekanan sewaktu-waktu.

Mengenai Selat Hormuz, semua pihak telah membangun saluran komunikasi guna memastikan kapal-kapal dagang dapat melintas dengan aman. Vance menyatakan bahwa saat ini jutaan barel minyak mentah dan gas alam sedang dikirim melalui selat tersebut.

Namun, pada 20 Juni, Iran sempat mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan adanya pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Lebanon.

Pejabat Amerika Serikat kemudian membantah bahwa selat tersebut telah diblokade sepenuhnya dan menegaskan bahwa kapal-kapal dagang masih terus melintas.

Vance juga mengungkapkan bahwa delegasi Iran sempat mengancam akan meninggalkan meja perundingan, tetapi pada akhirnya tetap melanjutkan pembicaraan.

“Kemarin kami berunding hingga lewat pukul satu dini hari, jadi mereka tidak benar-benar keluar dari perundingan,” lanjutnya. 

“Kami mengatakan kepada pihak Iran bahwa ketika mereka melakukan apa yang oleh generasi milenial disebut sebagai ‘menggertak’, mereka tidak bisa berharap Presiden Amerika Serikat tidak akan merespons atau tidak akan meluruskan fakta,” tambahnya. 

Pada hari Minggu, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras bahwa Iran harus segera mengendalikan kelompok proksinya di Lebanon dan menghentikan tindakan yang memicu ketegangan. Jika tidak, Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran dengan kekuatan yang disebutnya “lebih dahsyat daripada sebelumnya”.

Pernyataan tersebut sempat memicu ketidakpuasan delegasi Iran dan menyebabkan perundingan empat pihak terhenti sementara. Namun, berkat upaya aktif negara-negara mediator, pembicaraan akhirnya dapat dilanjutkan.

Terkait situasi di Lebanon, Amerika Serikat dan Iran sepakat membentuk kelompok kerja untuk meredakan konflik, dengan negara-negara mediator bertugas memfasilitasi upaya penghentian seluruh aksi militer di wilayah Lebanon.

Setelah gencatan senjata kembali berlaku pada 20 Juni, situasi di Lebanon dilaporkan relatif stabil. Militer Israel menyatakan bahwa pada Senin pagi mereka akan mencabut pembatasan aktivitas bagi warga yang tinggal di dekat perbatasan Israel-Lebanon.

Selain itu, Vance menyatakan bahwa pemerintah AS kemungkinan akan menyetujui pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan untuk digunakan membeli produk pertanian Amerika Serikat seperti kedelai, jagung, dan gandum demi kepentingan rakyat Iran. Namun, penggunaan dana tersebut akan diawasi secara ketat agar tidak mengalir kepada organisasi teroris.

Di sisi lain, Departemen Keuangan AS pada Senin mengumumkan pelonggaran sementara sanksi terhadap sektor minyak Iran, yang memungkinkan Iran memproduksi, menjual, dan mengirim minyak mentah serta produk terkait hingga 21 Agustus.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan memulai kunjungan ke sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Pemerintahan Trump berharap memperoleh dukungan dari para sekutu di kawasan Teluk Persia terhadap kesepakatan awal AS–Iran tersebut sebagai langkah menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

Laporan disusun oleh jurnalis Liu Jiajia untuk New Tang Dynasty Television (NTD).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Sidoarjo Percepat Betonisasi Jalan, Target Tuntas pada 2029
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sony Sonjaya Siap Bongkar Bukti 41 Nama Minta Jatah SPPG ke LPSK
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Taufik Hidayat Penyekap Wanita Bandung Selama 3 Tahun Ditahan di Sel Khusus
• 9 jam laludetik.com
thumb
Aneh bin Ajaib, Bisa-bisanya Negara Kaya Minyak Ini Kena Krisis BBM
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir Indonesia hingga 7 Juli 2026
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.