HARIAN.FAJAR.CO.ID, MIAMI—Brasil dan Skotlandia akan berduel di laga terakhir Grup C di Hard Rock Stadium, Miami. Selecao, julukan Brasil punya tradisi bagus yang jadi modal mereka, besok pagi.
Kedua negara bertemu kembali hampir tiga dekade setelah pertemuan terakhir mereka di Piala Dunia 1998 ketika Brasil meraih kemenangan 2-1 dalam perjalanan menuju final.
Rekor Brasil melawan Skotlandia sangat bagus karena mereka telah memenangkan enam duel dan seri dua kali dari delapan pertemuan internasional sebelumnya.
Di antara kemenangan mereka termasuk kenggulan di babak penyisihan grup Piala Dunia antara tahun 1982 dan 1998. Statistik bagus itu kini coba dipertahankan Brasil.
Setelah ditahan imbang 1-1 oleh Maroko di pertandingan pembuka Grup C, Brasil mengamankan kemenangan pertama mereka di Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Haiti 3-0 berkat brace Matheus Cunha dan satu gol Vinicius Junior.
Penampilan klinis mereka melawan Haiti membuat juara dunia lima kali tersebut kini telah mencetak setidaknya tiga gol dalam pertandingan Piala Dunia sebanyak 41 kali dalam sejarah mereka. Itu lebih banyak daripada negara lain, termasuk Jerman yang ada di urutan kedua.
Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti memuji penampilan timnya setelah pertandingan, dan tim Selecao-nya kini berada di posisi yang kuat untuk mengamankan posisi teratas di Grup C.
Untuk menjamin lolos sebagai juara grup, mereka hanya perlu menyamai atau melampaui hasil Maroko melawan Haiti yang bertanding pada waktu yang sama.
“Kami telah meningkat dan kami akan meningkat (lebih jauh lagi). Kita harus memanfaatkan babak penyisihan grup sebaik mungkin agar berada dalam kondisi prima untuk babak gugur,” kata Carlo Ancelotti dalam konferensi pers dikutip dari Agencia Brasil.
Lawan-lawan berat sudah menunggu Brasil di babak 32 besar. Jika menjadi juara grup atau runner up, mereka akan berhadapan dengan wakil Grup F; Belanda, Jepang, atau Swedia.
Sebaliknya, jika finis ketiga dan lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik, mereka bisa saja bertemu dengan juara Grup I yang akan diperebutkan Prancis dan Norwegia.
Namun, pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa dirinya tidak memikirkan babak sistem gugur. Menurutnya, fokus mereka sepenuhnya adalah pertandingan melawan Skotlandia.
“Kami tidak memikirkan babak gugur, tetapi tentang bermain bagus melawan Skotlandia. Jika memungkinkan, (kami ingin) finis pertama (di Grup C), yang bisa menjadi penting,” tegasnya.
“Jadi kami harus mempersiapkan diri dengan baik untuk pertandingan ini. Skotlandia memiliki gaya bermainnya sendiri dan dapat menimbulkan masalah bagi kami, seperti halnya bagi Maroko,” lanjutnya.
Selain fokus, Ancelotti meminta pemainnya tetap santai dan bekerja keras. “Kita perlu tetap tenang, menjaga ketenangan, dan terus bekerja untuk meningkatkan diri,” ujar mantan pelatih Real Madrid itu.
Di kubu Skotlandia yang mencoba mencapai babak sistem gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, pelatih Steve Clarke berharap pemainnya bisa pulih dengan baik untuk laga ini.
Clarke mengatakan, laga melawan Brasil akan jauh lebih sulit. “Kami akan beristirahat, memulihkan diri, dan siap untuk bermain lagi. Pertandingan tidak akan menjadi lebih mudah,” tegasnya di Reuters.
Skotlandia didikte Maroko sejak awal permainan saat mereka kalah 0-1. Dengan serangan cepatnya, Maroko langsung mencetak gol lewat Ismael Saibari setelah 71 detik yang menjadi gol tercepat turnamen.
Meski begitu, sang pelatih memuji anak asuhnya yang bisa memberikan perlawanan. “Tim yang lebih lemah mungkin akan runtuh melawan lawan dengan kualitas seperti itu, tetapi kami bertahan. Kami kembali ke permainan,” tegasnya.
Mewakili pemain Skotlandia, penyerang Lawrence Shankland memastikan target mereka adalah mengakhiri kutukan tak pernah menang melawan Brasil. “Kami akan pergi (ke sana) untuk mendapatkan hasil,” katanya di ESPN.
Kemenangan atau hasil imbang bagi Skotlandia akan membawa mereka lolos ke babak gugur Piala Dunia. Namun, Lawrence Shankland menegaskan imbang bagi mereka hanya opsi terakhir.
“Jelas hasil imbang mungkin sudah cukup untuk membawa kami lolos, tetapi kami akan mencoba memenangkan pertandingan terlebih dahulu, dan jika kami bisa mendapatkan satu poin, maka kami akan menerimanya,” ujarnya.
Meski terdengar percaya diri, Lawrence Shankland mengakui kehebatan Brasil. “Ini akan menjadi tantangan yang sulit, mereka adalah tim yang berkualitas, tim yang bagus, dan kami perlu berada dalam performa terbaik kami untuk mendapatkan sesuatu darinya,” tandasnya.
Trio Skotlandia; Scott McKenna, Aaron Hickey, dan Lewis Ferguson semuanya absen dari latihan selama akhir pekan. Akan tetapi, mereka semua bisa kembali bermain di lini tengah.
Clarke diperkirakan akan menerapkan pendekatan pragmatis melawan Brasil dan mungkin akan tetap menggunakan sistem yang berubah-ubah dari formasi 3-4-2-1 menjadi 4-4-1-1 melawan Maroko.
Sedangkan untuk Brasil, pemain sayap Barcelona, Raphinha dipastikan absen karena cedera hamstring melawan Haiti. Bintang muda Bournemouth, Rayan, kemungkinan besar kembali menggantikannya di sayap kanan.
Ancelotti telah mengkonfirmasi bahwa Neymar akan tersedia menghadapi Skotlandia setelah pulih dari cedera. Namun, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Brasil itu diperkirakan tidak akan menjadi starter sehingga Lucas Paqueta akan terus bermain di posisi nomor 10 untuk menyokong Vinicius Junior dan Matheus Cunha. (amr)
Prakiraan pemain
Skotlandia (3-4-2-1): Gunn; Hendry, Hanley, Robertson; Patterson, Christie, Ferguson, Tierney; McTominay, McGinn; Adams
Brasil (4-2-3-1): Alisson; Danilo, Marquinhos, Gabriel, Douglas Santos; Guimaraes, Casemiro; Rayan, Paqueta, Vinicius Jr; Cunha





