KOMPAS.TV - Potensi mangrove di kawasan pesisir Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, terus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui program pendampingan Tim Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), daun mangrove jenis api-api (Avicennia sp.) kini diolah menjadi sabun herbal mangrove yang memiliki peluang pasar menjanjikan.
Melalui program pendampingan dari Tim Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), pemanfaatan daun tumbuhan pesisir tersebut dioptimalkan menjadi produk sabun herbal yang siap dipasarkan secara profesional dan digital guna mendongkrak ekonomi masyarakat lokal.
Baca Juga: Keren! Mahasiswa ULM Raih Grand Champion International Innovation Competition (IIC) 2026
Ketua Tim Inovasi ULM, Muhammad Salauddin Ramadhan Djarod, menjelaskan bahwa kehadiran tim akademis di tengah masyarakat adalah untuk memberikan sentuhan teknologi tepat guna yang sederhana. Langkah ini dilakukan agar proses produksi sabun herbal oleh warga setempat menjadi lebih terstandar tanpa memerlukan modal alat yang mahal.
“Kami ingin memberikan gambaran dan mempraktikkan secara langsung bahwa potensi ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar, khususnya jenis mangrove api-api memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan tepat,” ujar Salauddin.
Agar memberikan dampak jangka panjang, warga yang mayoritas anak muda Karang Taruna dan penggiat lingkungan tidak hanya diajak mengoptimalkan formula kandungan daun mangrove untuk kesehatan kulit.
Tim Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, dalam proses pembuatan sabun herbal berbahan dasar daun mangrove api-api (Avicennia sp.). (Sumber: Dok. Universitas Lambung Mangkurat)Tim ULM juga membekali mereka dengan kemampuan manajemen bisnis praktis, mulai dari rumus sederhana menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) hingga penentuan harga jual di pasar agar menghasilkan keuntungan yang pasti.
Selain itu, aspek pemasaran digital juga ditekankan agar produk lokal ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu tim pendamping pasar digital, Ira Puspita Dewi, mengedukasi warga mengenai pentingnya identitas produk melalui merek dagang AVICEN Tech-Botanics sebagai standar contoh produk yang dikembangkan di lingkungan kampus. Pemasaran digital tersebut diarahkan lewat teknik jualan cepat yang memanfaatkan fitur media sosial secara konsisten.
“Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu pintu keberhasilan pemasaran produk herbal mangrove. Bisa dimulai dengan mengunggah foto produk pada fitur story baik di Instagram maupun di WhatsApp, sederhana tapi mengundang calon pembeli dengan mudah,” kata Ira.
Pemanfaatan daun mangrove menjadi produk sanitasi ini dinilai menjadi alternatif usaha baru bagi masyarakat pesisir banua. Selama ini, pemanfaatan tanaman pesisir tersebut lebih sering bertumpu pada produk makanan atau sirup yang memiliki kelemahan pada masa kadaluwarsa yang relatif cepat.
Penulis : Riany-Pradini
Sumber : Kompas TV
- Advertorial
- MangroveApiApi
- ULM
- UMKM
- SabunHerbal
- Ekonomi





