Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investasi dana pensiun (dapen) sebesar Rp1.617,44 triliun atau tumbuh 9,21% (year on year/YoY) pada April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono berujar penempatan investasi industri masih didominasi oleh Surat Berharga Negara atau SBN sebesar Rp1.041 triliun atau 64,41% dari total investasi.
“Diikuti deposito dan tabungan sebesar Rp 225,71 triliun atau 13,95% dari total investasi,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK OJK Mei, Selasa (23/6/2026).
Menurut Ogi, komposisi itu menunjukkan preferensi industri terhadap instrumen yang relatif aman dan sesuai dengan karakteristik liabilitas jangka panjang dana pensiun.
“Ke depan, tantangan pengelolaan investasi antara lain berasal dari volatilitas pasar keuangan, dinamika suku bunga, tekanan geopolitik global, serta kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara hasil investasi dan profil risiko,” bebernya.
Di sisi lain, dia turut menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,75% dapat memengaruhi strategi investasi industri dana pensiun, khususnya dalam pengelolaan portofolio pendapatan tetap dan pasar uang.
Baca Juga
- Iuran Dana Pensiun Sukarela dan Wajib Kompak Tumbuh pada April 2026
- OPINI: Dana Pensiun untuk Semua
- Sederet Tantangan Dana Pensiun Terapkan Life Cycle Fun (LCF)
Namun demikian, lanjutnya, SBN diperkirakan tetap menjadi instrumen utama pilihan industri. Hal ini karena SBN memberikan kombinasi antara keamanan, likuiditas, dan kesesuaian dengan kebutuhan investasi jangka panjang dana pensiun.
Sebagai informasi, OJK mencatat iuran dana pensiun gabungan pada April 2026 tercatat sebesar Rp53,24 triliun, meningkat 8,62% YoY. Sementara itu, pembayaran manfaat mencapai Rp41,43 triliun atau naik 18,01% YoY.
Pada periode ini pula, jumlah peserta dana pensiun mencapai 30,11 juta peserta, meningkat 3,80% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Perkembangan ini mencerminkan masih tumbuhnya kesadaran masyarakat dan pemberi kerja terhadap pentingnya program pensiun, meskipun tantangan perluasan kepesertaan masih perlu terus menjadi perhatian,” pungkas Ogi.





