Jakarta, VIVA – Juru bicara pemerintah dituntut mampu menghadapi dinamika komunikasi publik yang semakin kompleks, di tengah perkembangan media digital dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Hal tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Juru Bicara Pemerintah bertema "Satu Pesan, Satu Suara, Dipercaya Publik", yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 23 Juni 2026.
Praktisi komunikasi, Adita Irawati mengatakan, media saat ini menjadi ruang kompetisi narasi yang dapat membentuk persepsi publik, terhadap kebijakan maupun institusi pemerintah. Oleh karena itu, juru bicara perlu memahami setiap pernyataan yang disampaikan berpotensi membentuk sudut pandang tertentu di tengah masyarakat.
"Media adalah ruang kompetisi narasi. Jangan sampai ketika menjalankan peran sebagai juru bicara justru membuka peluang munculnya framing yang dapat menimbulkan persepsi yang saling bertentangan," kata Adita dalam keterangannya, Rabu, 24 Juni 2026.
- Sekretariat Presiden
Mantan Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) itu menekankan, pesan yang disampaikan kepada publik harus konsisten, akurat, dan selaras dengan kebijakan yang diwakili. Dia juga menegaskan, tantangan utama dalam berinteraksi dengan media bukan terletak pada pertanyaan wartawan, melainkan pada kualitas jawaban yang diberikan.
"Tidak ada pertanyaan yang salah. Yang ada adalah jawaban yang salah. Wartawan bebas bertanya apa saja, dan tugas juru bicara adalah meresponsnya dengan baik," ujar Adita.
Selain itu, Adita juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan komunikasi digital. Juru bicara pemerintah dinilai perlu memahami ekosistem media digital, dan mampu menerapkan konsep digital messaging. Yakni menyederhanakan informasi yang kompleks, menjadi pesan yang ringkas, jelas, dan mudah dipahami masyarakat.
"Semakin pendeknya rentang perhatian publik di media sosial, menuntut penyampaian pesan yang efektif tanpa mengurangi substansi informasi," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang menyampaikan, perkembangan algoritma digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh, menerima, dan menyebarkan informasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi pemerintah dalam membangun komunikasi publik yang efektif.
"Era algoritma telah mengubah cara informasi diciptakan, disebarkan, dan diterima publik. Karena itu, humas pemerintah dan juru bicara harus memiliki cara pandang baru dalam menyusun strategi komunikasi," kata Rustika.





