KOMPAS.TV - Solusi berkelanjutan kerap tumbuh dari inisiatif lokal yang menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Dari komunitas, para penggerak perubahan menghadirkan gagasan yang berdampak di bidang sosial, lingkungan, pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Cerita tentang para penggerak lokal tersebut kembali menjadi salah satu perhatian dalam Lestari Summit 2026.
KG Media sebagai penyelenggara kembali menghadirkan sesi khusus bersama Astra yang mengangkat SATU Indonesia Awards. Program ini merupakan ruang apresiasi bagi anak muda Indonesia yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Kehadiran sesi tersebut melanjutkan pembahasan yang telah diangkat dalam Lestari Summit 2025. Kala itu, sesi bersama Astra memperlihatkan bahwa inisiatif lokal dapat berkembang lebih luas ketika mendapat apresiasi, pendampingan, dan dukungan ekosistem yang tepat.
Kilas Balik Lestari Summit 2025
Pada Lestari Summit 2025, sesi bersama Astra membahas peran komunitas dalam membangun ketahanan desa atau rural resiliency. Diskusi tersebut memperlihatkan peran penting penggerak lokal dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan di daerah.
Pada sesi tersebut, Astra menegaskan komitmennya dalam membangun ketahanan desa melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Komitmen ini juga menjadi bagian dari Astra 2030 Sustainability Aspirations.
“Astra senantiasa memberdayakan masyarakat dan memperkuat kontribusi sosial di wilayah desa melalui berbagai inisiatif yang dirancang untuk memberikan manfaat langsung,” ujar Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto pada Lestari Summit 2025 di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Komitmen tersebut tergambar dari kisah Akhmad Sobirin, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 bidang kewirausahaan. Ia dikenal melalui inisiatif pemberdayaan petani gula semut di Desa Semedo, Banyumas, Jawa Tengah.
Inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi petani gula kelapa di Desa Semedo yang masih menghadapi persoalan pendapatan, akses pasar, dan keselamatan kerja.
“Petani kala itu masih mengandalkan sistem ijon sehingga pendapatan harian sangat rendah, sekitar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per hari,” ucap Sobirin.
Setelah menyelesaikan kuliah Teknik Mesin di Universitas Gadjah Mada pada 2012, Sobirin memilih kembali ke desa. Ia melihat potensi gula kelapa untuk dikembangkan menjadi gula semut yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan peluang pasar lebih luas.
Pada awal pengembangan, terdapat 25 petani yang bergabung. Dari jumlah kecil tersebut, Sobirin mulai membangun ekosistem pemberdayaan yang berfokus pada peningkatan kualitas produk dan kesejahteraan petani.
Titik balik perjalanan Sobirin terjadi setelah ia menerima apresiasi SATU Indonesia Awards pada 2016. Apresiasi ini membuka ruang lebih luas bagi inisiatif yang telah ia bangun di Desa Semedo.
Dari Apresiasi Menuju Pendampingan
Kisah Sobirin menjadi salah satu contoh bahwa SATU Indonesia Awards tidak hanya hadir sebagai ajang apresiasi. Bagi penerima penghargaan, program ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas dampak melalui pendampingan, pembinaan, jejaring, dan peluang kolaborasi.
Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo, yang juga hadir dalam diskusi panel Lestari Summit 2025, menjelaskan bahwa SATU Indonesia Awards merupakan ajang pencarian talenta muda di Indonesia yang memiliki semangat menggerakkan komunitas dan membawa perubahan.
“Kami percaya bahwa anak muda adalah tonggak pergerakan, produktif, energik, dan bisa membawa perubahan,” kata Windy.
Menurut Windy, program penghargaan tersebut tidak berhenti pada seremoni. Pembinaan terus dilakukan secara konsisten dan jangka panjang.
“Kami mendampingi mereka untuk mengembangkan potensi dan memperluas dampaknya di masyarakat,” imbuh Windy.
Pendampingan itu dirasakan langsung oleh Sobirin dan petani Desa Semedo. Dukungan diberikan melalui peningkatan kualitas produksi, perbaikan peralatan, pelatihan, hingga pembukaan akses pasar.
“Dari peralatan produksi yang tadinya belum food grade kemudian dijadikan food grade. Kami juga dibantu peralatan produksi, akses pasar, dan pelatihan,” terang Sobirin.
Desa Semedo kemudian menjadi salah satu desa yang terpilih dalam program Desa Sejahtera Astra pada 2018. Melalui pendampingan tersebut, produk gula semut dari Semedo mampu berkembang dan membuka peluang ekspor secara mandiri.
Kini, gerakan yang awalnya melibatkan 25 petani berkembang menjadi pemberdayaan bagi lebih dari 1.000 petani. Sobirin juga membina 18 kelompok tani melalui Koperasi Semedo Manise.
Penulis : Anindhita-Maulizeira
Sumber : Kompas TV
- Advertorial
- Lestari Summit 2026
- Ekonomi Daerah
- SATU Indonesia Awards





