Bisnis.com, PADANG — Ekspor komoditas lobster laut asal Sumatra Barat mengalami penurunan cukup drastis akibat turunnya hasil tangkapan nelayan dan berkurangnya pencari lobster di daerah tersebut.
Eksportir asal Padang, Misho, mengatakan penurunan sudah terjadi dalam setahun terakhir. Pasokan dari Mentawai dan Pesisir Selatan kini jauh berkurang akibat cuaca panas berkepanjangan yang membuat lobster sulit ditangkap karena tidak keluar dari karang.
Menurut dia, kondisi itu membuat banyak nelayan mengurangi aktivitas penangkapan. Hasil tangkapan yang masuk ke pengepul kini hanya dalam jumlah kecil, meski tetap dibeli dengan syarat hidup dan sehat serta mengikuti harga pasar.
Akibat penurunan pasokan, Misho tidak lagi mengekspor langsung dan memilih menjual ke Jakarta sebelum diteruskan ke China dan Taiwan karena volume tidak mencukupi untuk ekspor mandiri.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di daerah lain sehingga banyak eksportir beralih menjadi pengepul sebelum menggabungkan pasokan untuk ekspor.
“Keluhannya sama, hasil tangkapan nelayan di daerah lain juga turun akibat cuaca panas,” tegasnya.
Baca Juga
- KKP Gagalkan Penyelundupan 1,31 Juta Benih Lobster pada 2025
- Optimisme Baru dari Laut Sumbar: Nelayan Lokal Menjajal Budidaya Lobster
- Ekspor Benih Lobster Disetop, RI Putus Kerja Sama dengan Vietnam
Misho menilai prospek pasar ekspor lobster Indonesia masih sangat besar karena permintaan dari China saja belum dapat dipenuhi secara maksimal. Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah mengembangkan budidaya lobster laut di Sumbar yang memiliki kondisi perairan cukup baik.
Namun, menurutnya, pengembangan budidaya perlu dibarengi peningkatan pengetahuan dan teknik pembudidayaan agar menghasilkan lobster berkualitas ekspor.
“Sekarang sebenarnya ada nelayan lokal yang melakukan budidaya lobster laut, yakni lobster jenis pasir dan mutiara. Saya sudah melihat hasil panennya, ternyata cangkangnya sangat lunak dan warnanya sedikit pucat. Kondisi tersebut tidak memenuhi syarat untuk ekspor. Namun, untuk memenuhi kebutuhan restoran atau rumah makan, hasil seperti itu sudah cukup bagus,” katanya.
Untuk meningkatkan kualitas budidaya, Misho berharap pemerintah daerah memfasilitasi studi banding ke Vietnam yang dikenal sebagai negara penghasil lobster budidaya berkualitas.
Menurutnya, jika dilakukan secara serius dan konsisten, Sumbar berpotensi menjadi sentra lobster nasional dengan dukungan daerah pesisir seperti Mentawai, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat.
Misho bahkan menawarkan diri membantu proses belajar budidaya lobster ke Vietnam dengan biaya pribadi. Dia hanya meminta dukungan berupa surat resmi dari pemerintah daerah untuk memudahkan koordinasi dengan pelaku usaha budidaya di negara tersebut.
“Pemerintah daerah tidak perlu memikirkan biaya saya. Asalkan ada surat resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, itu sudah menjadi modal kuat bagi saya untuk pergi ke Vietnam,” ungkapnya.
Uji Coba Budidaya Lobster di Pesisir SelatanSebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar telah memulai uji coba budidaya lobster laut di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Sebanyak 700 ekor benih lobster dibudidayakan oleh nelayan Afrizal yang dikenal sebagai pelopor budidaya lobster di wilayah tersebut.
Program ini dimulai pada 2024 saat DKP Sumbar menggelar pelatihan budidaya lobster. Afrizal terpilih mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, salah satu kawasan perikanan besar di Indonesia.
Di sana dia mempelajari berbagai hal mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air, hingga menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal.
“Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu. Tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Sepulang dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmunya. Pada Oktober 2024, ia menebar 700 ekor benih lobster jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, dengan dukungan DKP Sumbar. Benih tersebut dirawat secara disiplin, diberi pakan berupa potongan kerang dan keong, ikan rucah, serta rajungan kecil setiap hari, sekaligus menjaga kebersihan air agar tetap jernih.
Hasilnya cukup menggembirakan. Setelah satu tahun, pertumbuhan lobster dinilai baik. Namun, untuk kebutuhan ekspor, kondisi cangkang masih tergolong lunak sehingga meningkatkan risiko kematian saat pengiriman.
“Ekspor lobster ini harus dalam keadaan hidup hingga sampai ke negara tujuan. Nah, hasil dari diskusi pengepul di Padang, ternyata tidak layak, risiko mati tinggi. Ke depan, tentu saya berharap ada solusi dari hal ini,” pintanya.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan optimisme terhadap prospek perikanan budidaya nasional.
"Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari US$414 miliar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” ujarnya, seperti dikutip dari situs KKP.
Program percontohan budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) di atas 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, sebagian besar lobster tumbuh hingga ukuran konsumsi ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster juga dinilai dapat menekan praktik penyelundupan benur yang masih terjadi.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.





