Jakarta: Penguatan kolaborasi media Indonesia dan Tiongkok melalui program pertukaran jurnalis, pertukaran konten, serta kerja sama cek fakta diusulkan Irfan Junaedi, selaku Sekretaris Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) periode 2024–2027.
Usulan tersebut disampaikan dalam Tiongkok-Indonesia Think Tank and Media Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Irfan, media memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara di tengah meningkatnya tantangan disinformasi dan persaingan narasi global. Karena itu, kerja sama antarmedia perlu diperluas agar informasi mengenai Indonesia dan Tiongkok dapat disampaikan secara lebih akurat dan berimbang.
Ia mengatakan, media harus menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara melalui pemberitaan yang berbasis fakta. Selain melaporkan perkembangan kerja sama, media juga perlu membantu publik memahami berbagai inisiatif strategis yang dijalankan Indonesia maupun Tiongkok.
"Dalam dunia ketika misinformasi bergerak lebih cepat daripada fakta, media harus menjadi jembatan kebenaran antara kedua negara," ujar Irfan.
Sebagai tindak lanjut forum, Forum Pemred mengusulkan pembentukan program pertukaran konten antara media terkemuka di Indonesia dan Tiongkok. Melalui skema tersebut, kedua pihak dapat saling berbagi dokumenter, artikel opini, tajuk rencana, hingga kisah human interest secara langsung.
Selain itu, Forum Pemred juga mengusulkan program fellowship jurnalis yang memungkinkan reporter dan editor dari kedua negara bekerja dan belajar di ruang redaksi mitra mereka. Menurut Irfan, pengalaman bekerja bersama akan membantu membangun pemahaman dan empati yang lebih kuat dibandingkan sekadar interaksi formal.
Usulan lainnya adalah pembentukan aliansi cek fakta tahunan yang melibatkan media, lembaga pemikir, dan pemeriksa fakta dari kedua negara. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menangkal hoaks, misinformasi, dan distorsi informasi yang berkaitan dengan hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok.
Irfan menegaskan bahwa kerja sama media harus berlandaskan prinsip kesetaraan, profesionalisme, dan saling menghormati. Ia menilai media dari kedua negara memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat sekaligus mendukung terciptanya hubungan yang konstruktif bagi generasi mendatang.
Menurutnya, forum think tank dan media tidak hanya menjadi ruang pertukaran pandangan, tetapi juga wadah untuk membangun fondasi hubungan Indonesia-Tiongkok dalam jangka panjang. Melalui kolaborasi yang lebih erat, media diharapkan dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik antara masyarakat kedua negara.
(Keysa Qanita)




