SURABAYA, 24 Juni 2026 – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, Jawa Timur justru mencatatkan prestasi gemilang. Kinerja APBN Regional Jawa Timur hingga 31 Mei 2026 membukukan surplus sebesar Rp57,56 triliun, sebuah angka yang menjadi bukti nyata ketahanan dan geliat ekonomi di wilayah ini tetap kokoh.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur I sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Max Darmawan, memaparkan bahwa dari sisi Pendapatan Negara, realisasi telah mencapai Rp106,08 triliun atau 35,13 persen dari target APBN, tumbuh 7,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kinerja penerimaan pajak neto di Jawa Timur tumbuh sangat baik sebesar 16,24 persen (yoy) dengan realisasi mencapai Rp46,86 triliun. Tren ini terus menunjukkan eskalasi positif dari bulan ke bulan, yang mengindikasikan aktivitas usaha, daya beli masyarakat, serta kepatuhan wajib pajak berada dalam kondisi yang sehat,” ujar Max Darmawan di Surabaya.
Pajak Badan dan PPN Jadi Mesin UtamaMax merinci, penerimaan pajak neto tersebut ditopang oleh:
- Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar Rp7,3 triliun (tumbuh 15,65 persen yoy)
- PPN dan PPnBM sebesar Rp22,11 triliun
Dari sisi sektoral, industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan realisasi penerimaan bruto Rp29,10 triliun, disusul sektor perdagangan yang tumbuh akseleratif sebesar 15,72 persen (yoy).
Pendapatan negara juga diperkuat oleh realisasi Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp55,48 triliun serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tumbuh 9,55 persen dengan capaian Rp3,74 triliun.
Belanja Modal Melonjak 247%, Infrastruktur DigenjotSementara itu, dari sisi eksekusi anggaran, Saiful Islam, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Timur, mengungkapkan bahwa realisasi belanja negara telah mencapai Rp48,52 triliun atau 42,92 persen dari total pagu anggaran.
“Kami terus mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan anggaran melalui percepatan realisasi sejak awal tahun agar APBN dapat berfungsi optimal sebagai stimulus perekonomian daerah,” jelas Saiful.
Yang paling mencengangkan adalah lonjakan Belanja Modal yang tumbuh 247,73 persen (yoy) atau terealisasi sebesar Rp3,04 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur produktif.
Rincian belanja modal dimanfaatkan untuk:
- Pembangunan gedung dan bangunan senilai Rp1,92 triliun
- Infrastruktur jalan, irigasi, dan jaringan senilai Rp700,49 miliar
Keduanya bertujuan mendukung konektivitas dan penguatan ketahanan pangan di Jawa Timur.
Selain itu, instrumen APBN juga disalurkan melalui Transfer ke Daerah (TKD) yang telah terealisasi sebesar Rp29,96 triliun atau 46,76 persen dari pagu. Persentase penyaluran tahun ini tercatat lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
APBN Jatim: Optimal dan AkseleratifMelalui sinergi implementasi kebijakan fiskal yang solid, APBN Regional Tahun Anggaran 2026 terbukti andal dalam menjalankan fungsi utamanya: optimal dalam menghimpun penerimaan negara dan akseleratif dalam menyalurkan belanja demi kemakmuran masyarakat.
Dengan surplus yang menganga dan belanja modal yang melonjak, Jawa Timur menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian global, fondasi ekonomi daerah tetap kokoh dan siap menghadapi tantangan ke depan.





