Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan mata uang rupiah dipicu kombinasi sentimen pasar global dan kekhawatiran terhadap kondisi fundamental ekonomi domestik yang dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah pada perdagangan Rabu (24/6/2026) pagi mengalami pelemahan cukup tajam hingga 100 poin dan bergerak di level Rp17.959 per dolar AS.
“Pagi ini rupiah melemah cukup tajam, ya, 100 poin, ya, sekarang di Rp17.959,” kata Ibrahim dalam keterangan suara, Rabu (24/6/2026).
Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah adalah antisipasi pasar terhadap pernyataan MSCI yang dijadwalkan dirilis pada malam hari. Investor disebut mencermati sejumlah isu yang selama ini menjadi sorotan terhadap pasar modal Indonesia.
“Yang membuat harga rupiah kembali mengalami pelemahan yang cukup signifikan adalah salah satunya pernyataan dari MSCI yang nanti malam baru akan dirilis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasar bukan hanya memperhatikan status Indonesia yang diperkirakan tetap berada dalam kelompok Emerging Market, tetapi juga menunggu evaluasi terkait aspek free float dan transparansi data yang selama ini menjadi perhatian investor asing.
“Memang kita tahu bahwa MSCI masih akan mempertahankan, ya, pasar modal kita di Emerging Market, tetapi yang akan kita lihat ini adalah tentang masalah free float, ya, kemudian transparansi data,” kata Ibrahim.
Menurutnya, isu transparansi data berpotensi menjadi catatan penting yang memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Ini yang menjadi satu permasalahan bagi investor asing, ya, sehingga apa, sehingga ini yang kemungkinan besar akan dijadikan sebagai alasan bagi pasar, ya, tentang transparansi data yang harus benar-benar dilakukan reformasi oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia,” ujarnya.
Selain faktor pasar modal, Ibrahim juga menyoroti melemahnya daya saing industri manufaktur nasional yang dinilai mulai memberikan sinyal negatif terhadap prospek ekonomi domestik.
Ia mengungkapkan terdapat dua perusahaan otomotif besar yang disebut akan menghentikan produksi di Indonesia dan memindahkan operasinya ke Vietnam. Langkah tersebut berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar.




