Pada akhir 2022, Cinta Laura Kiehl mengunjungi Jember, Jawa Timur, untuk menjalankan aksi sosial. Selebriti ini memang telah dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap isu kemanusiaan di luar gemerlap dunia akting. Namun perjalanan kala itu dilakukan secara diam-diam dan baru diketahui beberapa waktu kemudian.
Di sana, ia bertemu dengan lima anak yang memiliki latar belakang kehidupan serupa: tumbuh dalam keterbatasan dan menghadapi berbagai tantangan hidup sejak usia dini. Pertemuan itu tidak berhenti pada tegur sapa atau berbagi cerita saja.
Melainkan Cinta Laura mengangkat kelima anak menjadi anak asuh. Ia membantu mereka mendapat kehidupan yang layak dengan dukungan finansial. Tak hanya sebatas memberi materi, Cinta Laura juga rutin menanyakan kabar mereka satu per satu sebagai bentuk dukungan emosional.
Dari lima anak itu, ada yang berasal dari sebuah desa terpencil di Jawa Timur, sekitar dua jam dari Bondowoso. Anak ini telah kehilangan orang tuanya. Dirinya hidup bersama sang nenek dan satu anggota keluarga dengan kondisi gangguan jiwa.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia banyak belajar secara otodidak karena sang nenek hanya dapat berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Meski menghadapi berbagai tantangan, anak itu tidak menunjukkan beban yang dipikulnya. Ia tetap tampak ceria dan menjalani hari seperti anak-anak pada umumnya. Sikap itulah yang membuat Cinta Laura merasa kagum.
Pertemuan itu membuat Cinta Laura kembali memaknai arti privilese. Menurutnya, privilese bukan semata soal hidup kaya atau memiliki kesempatan bepergian ke luar negeri kapan saja. Melainkan, privilese dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: bisa menjalani hari dengan nyaman tanpa harus mengkhawatirkan kebutuhan paling mendasar.
Cerita Cinta Laura tak berakhir di situ, ia kembali mendapatkan pelajaran berharga di wilayah Masohi, Maluku Tengah. Di tempat tersebut terdapat sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi perempuan korban kekerasan atau pelecehan. Di satu sisi, keberadaan fasilitas ini menjadi angin segar untuk melindungi perempuan.
Akan tetapi, rumah aman tersebut belum berjalan optimal. Infrastruktur dan sistem pendukungnya masih terbatas, bahkan kerap tidak ada pendamping yang siaga untuk membantu perempuan yang membutuhkan.
Gayung bersambut, Cinta Laura bertemu dengan seorang anak yang mengalami kekerasan dari anggota keluarganya sendiri. Keterbatasan ruang aman membuat sang anak kehilangan semangat dalam menjalani hari-harinya.
“Berbeda dengan anak yang aku temui di Bondowoso dan Jember, anak (di Masohi) ini mulai kehilangan semangat hidupnya dan merasa tidak ada jalan keluar,” ujar Cinta Laura.
Cinta Laura mengaku merasa sedih karena tidak dapat terus mendampingi anak tersebut secara langsung—mengingat domisilinya berada di Jakarta. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa aksi kemanusiaan tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kolaborasi yang kuat, baik dari pemerintah daerah maupun para relawan, agar misi sosial dapat berjalan.
Sudah sambangi wilayah pelosok bersama sang ibu sejak kecilKedua cerita di atas merupakan bagian kecil dari perjalanan Cinta Laura menjelajahi wilayah pelosok. Menariknya, sejak kecil—Cinta Laura memang telah akrab dengan perjalanan ke desa-desa terpencil bersama sang ibu.
“Sebenarnya dari kecil aku sangat sering blusukan. Banyak orang lupa atau tidak percaya, mungkin karena kemasan aku—mereka berpikir oh Cinta pasti selalu nyaman,” ujarnya.
Ia mengaku merasa beruntung memiliki privilese untuk dapat mengunjungi desa-desa terpencil. Dari pengalaman tersebut, pandangannya menjadi lebih terbuka—bahwa masih ada wilayah yang kesulitan mengakses listrik dan air bersih. Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap realitas kehidupan yang sangat berbeda dari yang selama ini ia temui di perkotaan.
Berangkat dari pengalaman itu, Cinta Laura juga kerap mengajak orang-orang di sekitarnya—terutama mereka yang memiliki privilese serupa—untuk melihat langsung kondisi di wilayah terpencil.
Selama enam tahun terakhir, Duta Nasional UNICEF Indonesia ini membawa banyak pelajaran hidup dari berbagai daerah yang ia kunjungi. Pengalaman-pengalaman itu membentuk Cinta Laura sebagai sosok yang vokal terhadap isu kemanusiaan, terutama yang berada di pelosok.
Fase kehidupan Cinta LauraSebagai sosok yang dikenal inspiratif, Cinta Laura mengakui bahwa dirinya pernah berada dalam fase yang sangat ambisius. Pada masa itu, ia selalu terdorong untuk melakukan lebih setiap kali berhasil mencapai sesuatu. Meski demikian, ia menyadari bahwa pola tersebut dapat meracuni dirinya sendiri.
Ia menambahkan bahwa ambisi pada dasarnya merupakan hal yang baik, tetapi perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dicapai. Oleh karena itu, Cinta Laura belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.
Menurutnya, ketika seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, ia akan lebih mampu fokus pada hal-hal yang sedang dijalani dan menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna. Dalam proses tersebut, Cinta Laura mengingatkan bahwa rasa takut kerap datang dan berpotensi menghambat proses bertumbuh. Meski begitu, ia menegaskan untuk menghadapi rasa takut tersebut agar dapat terus melangkah.
“Kalau kita membiarkan rasa takut dan rasa ragu menguasai kita, kita tidak akan ke mana-mana. Jadi, tetap ambisius (itu) tidak apa-apa,” tegas Cinta Laura.
Dari perjalanan hidup serta berbagai kunjungannya ke wilayah pelosok, Cinta Laura memupuk satu mimpi: memimpin dengan ambisi tanpa melupakan sisi kemanusiaan.





