Bisnis.com, CIREBON — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat tingkat pekerja formal di wilayah Ciayumajakuning masih relatif rendah dibandingkan kawasan aglomerasi lain di Jawa Barat.
Padahal, kawasan yang menjadi bagian penting pengembangan Metropolitan Rebana tersebut selama beberapa tahun terakhir terus dibangun melalui berbagai proyek strategis nasional, mulai dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Pelabuhan Patimban, Tol Cipali, hingga kawasan industri baru.
Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, rata-rata pekerja formal di Ciayumajakuning hanya mencapai 36,34%. Angka tersebut merupakan gabungan dari Kabupaten Cirebon 38,19%, Kota Cirebon 48,91%, Indramayu 25,85%, Majalengka 35,23%, dan Kuningan 33,54%.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan sebagian besar kabupaten dan kota di Ciayumajakuning masih didominasi pekerja informal. Kondisi tersebut menunjukkan transformasi struktur ketenagakerjaan menuju sektor formal belum berlangsung merata.
“Masih terdapat 18 kabupaten/kota di Jawa Barat yang penduduk bekerjanya didominasi pekerja informal. Sementara pekerja formal lebih terkonsentrasi di kota-kota besar dan wilayah yang memiliki kawasan industri maupun berfungsi sebagai daerah penyangga pusat pertumbuhan ekonomi,” kata Margaretha dikutip pada Rabu (23/6/2026).
Data BPS menunjukkan kawasan dengan tingkat pekerja formal tertinggi masih terkonsentrasi di wilayah metropolitan dan koridor industri Jawa Barat. Kota Depok menjadi daerah dengan persentase pekerja formal tertinggi mencapai 66,20%, disusul Kota Bekasi 61,79%, dan Kota Cimahi 60,98%.
Baca Juga
- Ekspansi Industri Mulai Tekan Perekonomian Kawasan Agraris Ciayumajakuning
- Aset Lembaga Keuangan Mikro di Ciayumajakuning Melonjak 178%, Kredit Ikut Terkerek
- Perluas Inklusi Keuangan, OJK Cirebon Bentuk 5 Desa EKI di Ciayumajakuning
Sementara itu, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Purwakarta juga mencatat proporsi pekerja formal di atas 50%. Daerah-daerah tersebut selama ini dikenal sebagai pusat manufaktur, jasa modern, logistik, serta kawasan penyangga Jakarta dan Bandung.
Sebaliknya, sejumlah daerah di kawasan Rebana bagian timur masih menunjukkan dominasi pekerjaan informal. Indramayu menjadi daerah dengan proporsi pekerja formal terendah di Ciayumajakuning, yakni hanya 25,85%. Artinya, sekitar tiga dari empat pekerja di daerah tersebut masih berada di sektor informal.
Menurut Margaretha, sektor formal tumbuh lebih subur di wilayah perkotaan dan kawasan yang memiliki konsentrasi industri. Adapun wilayah yang struktur ekonominya masih ditopang sektor pertanian, perdagangan skala kecil, usaha keluarga, dan pekerjaan mandiri cenderung memiliki tingkat informalitas yang lebih tinggi.
Data BPS juga memperlihatkan adanya kesenjangan antara kawasan Ciayumajakuning dengan aglomerasi lain di Jawa Barat. Rata-rata pekerja formal di Ciayumajakuning sebesar 36,34% masih berada di bawah Purwakarta, Subang, Karawang (Purwasuka) yang mencapai sekira 42%, Bandung Raya sekitar 50%, dan Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) yang melampaui 60%.
Temuan tersebut menjadi catatan tersendiri di tengah ambisi pemerintah menjadikan Metropolitan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Jawa Barat. Kawasan yang mencakup Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang, Sumedang, dan sebagian wilayah lainnya itu diproyeksikan menjadi magnet investasi industri, logistik, dan manufaktur.





