REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Warga Jakarta Barat mulai didorong untuk memilah sampah dari rumah. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang mewajibkan pengelolaan sampah dari sumber.
Prakarsa Warga Jakarta Barat menggelar sosialisasi dan pelatihan pilah sampah berbasis warga di Halaman Pasar Jaya Cengkareng, Jakarta Barat. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.
- Pramono Ajak Warga Perkuat Budaya Pilah Sampah Demi Kota Bersih dan Berkelanjutan
- Menko Pangan Targetkan 80 Persen Masalah Sampah Nasional Tuntas pada 2029
- Tumpukan Sampah Tutupi Akses Jalan TPAS Puuwatu Kendari
Koordinator Prakarsa Warga Jakarta Barat Marlin Bato mengatakan, warga tidak hanya mendapatkan materi edukasi, tetapi juga praktik langsung memilah sampah organik, anorganik, dan residu.
"Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun budaya pilah sampah yang dimulai dari rumah, dilakukan secara konsisten oleh warga, dan berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan," kata Marlin.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan sampah melalui bank sampah yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, narasumber dari Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Barat turut memberikan materi mengenai kebijakan pengelolaan sampah dan teknik pemilahan sampah rumah tangga.
Menurut Marlin, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk mengurangi timbulan sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Kegiatan tersebut dilakukan di tengah upaya Pemprov DKI Jakarta memperkuat gerakan pilah sampah. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menegaskan Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari, sementara kapasitas TPST Bantargebang semakin terbatas.
“Tepat pada momentum HUT ke-499 Jakarta, bersama seluruh warga Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meneguhkan komitmen untuk menjaga Jakarta sebagai kota global yang bersih, layak huni, dan berkelanjutan,” kata Pramono.
Menurut Pramono, kondisi tersebut tidak lagi dapat diatasi hanya dengan pendekatan angkut dan buang. Karena itu, Pemprov DKI menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber.
“Jakarta kini memiliki fondasi yang kuat untuk menjadikan gerakan pilah sampah sebagai bagian dari budaya masyarakat. Sasaran utamanya adalah pemilahan sampah organik dan anorganik agar dapat dikelola melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle,” ujar Pramono.
Pramono menambahkan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah terus meningkat. Sejumlah lingkungan permukiman bahkan telah mengembangkan inovasi pengolahan sampah, mulai dari budidaya maggot hingga produksi pupuk dari sampah organik.
"Banyak RT dan RW yang telah lebih maju dari yang kami perkirakan. Karena itu, gerakan ini tidak boleh kendor dan harus terus diperluas agar menjadi budaya seluruh warga Jakarta,” kata Pramono.




