SIDOARJO, KOMPAS-PT PLN (Persero) mencabut jadwal manajemen beban kelistrikan yang berdampak pada pemadaman bergilir di Jawa Timur seiring teratasinya gangguan pada salah satu pembangkit listrik milik mitra swasta. Sistem layanan kelistrikan kepada pelanggan pun berangsur normal.
Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur Kemas Abdul Gaffur mengatakan, seluruh pelanggan di wilayah Jatim telah kembali mendapatkan layanan kelistrikan secara normal sejak Sabtu (20/6/2026), pukul 21.30 WIB.
“Pemberitahuan jadwal manajemen beban yang sebelumnya disampaikan sudah tidak berlaku saat ini,” ujar Kemas Rabu (2462026).
Kemas mengatakan, pihaknya berjanji akan terus memperkuat infrastruktur kelistrikan guna menghadirkan kualitas layanan pasokan listrik yang andal bagi masyarakat. PLN mengapresiasi pengertian, dukungan, dan kerja sama seluruh pelanggan selama penanganan gangguan berlangsung.
Adapun bagi pelanggan yang membutuhkan informasi dan layanan PLN dapat mengakses aplikasi PLN Mobile dan Contact Center PLN 123.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers, Jumat (19/6/2026), mengatakan gangguan kelistrikan di Jawa salah satunya dipicu oleh pasokan batubara sebagai bahan bakar sejumlah pembangkit listrik tenaga uap baik yang dimiliki PLN maupun Independent Power Producer (IPP) sempat menjadi masalah.
Darmawan menyebut, antara lain, PLTU Pelabuhan Ratu, Lontar, Labuan, Suralaya 1-8, Jawa 7, Jawa 9 dan 10, serta Indramayu. Sementara di Jawa bagian timur ada PLTU Paiton 1 dan 2, Paiton 9, Rembang, Pacitan, serta Tanjung Awar-Awar.
Pulihnya sistem kelistrikan Jatim itu disambut sukacita oleh masyarakat, terutama pelaku usaha mikro kecil dan menengah. Fariz Amrullah (48) pengusaha roti manis di Sidoarjo mengatakan, pemadaman listrik secara bergilir mengganggu usahanya.
Selama pekan lalu, misalnya, tempat produksinya terkena dua kali pemadaman listrik. Itubpun tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saat pemadaman pertama, karyawan sedang mengaduk adonan roti dan tiba-tiba mesin pengaduk (mixer) mati.
“Pekerjaan mengaduk adonan akhirnya dilakukan secara manual dengan tenaga manusia. Saat memanggang roti juga kami terpaksa menggunakan gas elpiji,” ujar Fariz yang rata-rata memproduksi 3.000 donat per hari.
Pelaku usaha kerajinan tas di Tanggulangin juga sempat terdampak pemadaman listrik. Akibatnya kegiatan produksi berhenti karena para pekerja tidak bisa menjahit tas dan memasang aksesoris karena tidak ada listrik.
Salah satu perajin, Mahmud (56), mengatakan, rata-rata bisa menjahit 500 hingga 1.000 tas ukuran kecil. Tas tersebut berbahan sintetis bukan kulit asli. Saat terjadi gangguan listrik, karyawan yang bekerja di menjahit, mengobras dan memasang aksesoris, menghentikan aktivitasnya.
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Surabaya menyatakan, gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di sektor perdagangan dan jasa.
Ketua Kadin Surabaya Ali Affandi mengatakan, pelaku UMKM terutama usaha rumahan merupakan kelompok yang paling rentan menghadapi gangguan pasokan listrik Alasannya sebagian besar tidak memiliki fasilitas cadangan seperti genset maupun sistem penyimpanan energi.
Pada usaha frozen food dan makanan olahan, misalnya, gangguan listrik berpotensi menurunkan kualitas produk akibat terganggunya sistem pendingin. Pada usaha laundry, tahapan pencucian dan penyetrikaan terhenti. Sementara bagi usaha percetakan, konveksi, dan bengkel, pemadaman dapat menyebabkan keterlambatan penyelesaian pesanan pelanggan dan menurunkan produktivitas usaha.
Kadin Surabaya menilai bahwa kebutuhan energi Jatim akan terus meningkat seiring berkembangnya kawasan industri, pusat logistik, perdagangan modern, industri digital, serta investasi baru yang masuk ke daerah. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur kelistrikan yang memadai agar tidak menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi.





