HARIAN.FAJAR.CO.ID, BARRU – Kenaikan nilai tukar dolar yang berdampak pada sejumlah komoditas turut dirasakan masyarakat di Sulawesi Selatan. Di Kabupaten Barru, harga gas elpiji 3 kilogram melonjak hingga dua kali lipat, sementara di Kabupaten Pinrang harga minyak goreng mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Di Desa Galessi, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, warga mengeluhkan kenaikan harga gas elpiji yang mulai terjadi sejak awal Ramadan 2026. Tidak hanya harga yang naik, distribusi gas bersubsidi tersebut juga disebut mengalami pembatasan.
Sebelumnya, harga elpiji 3 kilogram dijual di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per tabung. Namun sejak Ramadan, harga melonjak hingga mencapai Rp50 ribu per tabung.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih hemat dalam menggunakan gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Apalagi, setiap kartu keluarga disebut hanya bisa memperoleh satu tabung elpiji dalam satu pekan.
Salah seorang warga Desa Galessi, AR, mengaku kenaikan harga tersebut cukup memberatkan masyarakat karena gas elpiji merupakan kebutuhan utama rumah tangga.
“Gas elpiji menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi kami, namun sejak awal Ramadan harganya naik menjadi Rp50 ribu, padahal harga normalnya sekitar Rp20 ribu hingga Rp23 ribu,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, keterbatasan pasokan dan tingginya harga membuat warga harus mengatur penggunaan gas agar dapat bertahan hingga waktu pembelian berikutnya.
Sementara itu, kondisi serupa juga dirasakan warga Kelurahan Pacongang, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang. Harga minyak goreng yang sebelumnya berada di kisaran Rp16 ribu per liter kini naik menjadi sekitar Rp25 ribu per liter.
Kenaikan sebesar Rp9 ribu per liter tersebut dinilai cukup membebani pengeluaran rumah tangga, terutama bagi keluarga yang menggunakan minyak goreng setiap hari untuk kebutuhan memasak.
Warga Pacongang, Ratna (39) mengatakan kenaikan harga mulai dirasakan setelah nilai tukar dolar mengalami penguatan.
“Harga minyak goreng naik semenjak dolar naik,” katanya.
Ia menilai fluktuasi nilai tukar turut memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok yang beredar di pasaran. Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Ratna, kenaikan harga minyak goreng tidak hanya dirasakan oleh pedagang kecil, tetapi juga rumah tangga yang bergantung pada bahan pokok tersebut untuk kebutuhan konsumsi harian.
Warga berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta memperkuat pengawasan distribusi barang di pasar.
Masyarakat juga meminta agar ketersediaan elpiji bersubsidi dan minyak goreng tetap terjamin sehingga tidak semakin membebani kondisi ekonomi keluarga yang masih berupaya menyesuaikan diri dengan kenaikan berbagai kebutuhan hidup.





