(Artikel opini ini ditulis oleh Ratu Tiara, Pemerhati Isu Perempuan Anak (KOWANI), Pengurus AMPG Pusat, Staf Ahli Komisi VI DPR RI (2021)
tvOnenews.com - Hingga detik ini, Indonesia masih mengenang duka atas peristiwa nahas yang menimpa 15 wanita korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Ada banyak asumsi yang beredar mengenai penyebab kecelakaan tersebut, entah itu dari kecelakaan pertama yang terjadi antara KRL arah Cikarang-Jakarta dengan sebuah taksi yang tiba-tiba mogok di tengah rel, sinyal blok dalam Stasiun Bekasi Timur yang diduga mengalami eror sebelum kejadian, hingga masinis dari KA Argo Bromo Anggrek yang dituding terlambat dalam melakukan rem sehingga tabrakan dengan KRL arah sebaliknya harus terjadi. Namun, terlepas dari semua asumsi penyebab kecelakaan tersebut, satu yang kita bisa simpulkan penyebabnya tidaklah tunggal.
Ini menjadi catatan keseluruhan bagi BUMN yang menaungi, bukan hanya PT KAI saja tapi BUMN dengan sektor pelayanan masyarakat lainnya, untuk memberikan layanan yang ramah bagi kaum perempuan, tentunya dengan tidak mengorbankan gender lainnya.
Seyogianya, BUMN harus menerapkan prinsip utamakan kualitas pelayanan ketimbang hanya meraup keuntungan semata. Jika kita fokus pada pelayanan PT KAI sejalan dengan insiden tragis yang terjadi, kita bisa melihat bahwa masih banyak hal yang harus ditingkatkan dari BUMN yang satu ini khususnya dalam melayani penumpang.
Kita sering sekali melihat penumpang jatuh ke dalam jalur rel kereta, hal itu tentu sangatlah berbahaya dan bisa memakan korban, kita mengetahui bahwa belum semua stasiun kereta di Indonesia memiliki passanger gate yang mencegah penumpang terperosok masuk ke ceruk rel. Kemudian pemeriksaan mengenai keaktifan sinyal blok di dalam stasiun untuk mengecek status keberadaan kereta di sebuah stasiun. Bagi kenyamanan dan keselamatan penumpang, PT KAI juga sebaiknya memperbanyak pembangunan eskalator atau lift atau elevator selain tangga disebabkan banyaknya penumpang yang bertumpuk dan berdesakan saat akan menuju lantai berikutnya atau arah sebaliknya.
Berikut adalah berbagai alat canggih pendeteksi kereta api di dunia yang belum dimiliki KAI:




