Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 3,56 persen ke level 5.883,881 pada perdagangan Rabu (24/6). Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat dibuka di level 6.128,271 dan menyentuh level tertinggi 6.171,380 sebelum terus tertekan hingga menyentuh level terendah 5.876,934.
Tekanan jual terjadi secara luas di pasar. Sebanyak 611 saham melemah, hanya 98 saham menguat, dan 104 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 15,093 triliun dengan volume perdagangan 26,701 miliar saham.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan tajam IHSG dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap status pasar modal Indonesia dalam klasifikasi MSCI.
“Sejauh ini kami menilai keputusan MSCI untuk mempertahankan memang memberikan ketenangan bagi pelaku pasar dan investor. Namun masalahnya adalah ini seperti digantung dengan ketidakpastian kembali di mana ada ancaman akan menurunkan,” kata Nico kepada kumparan, Rabu (24/6).
“Oleh sebab, itu kekhawatiran pelaku pasar dan investor tampaknya belum usai, hingga MSCI benar benar memastikan Indonesia tidak akan turun kelasnya. Hal ini yang membuat pasar terkoreksi hingga -3.56 persen hari ini,” imbuhnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut sentimen MSCI menjadi perhatian utama pasar menjelang perilisan MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia. Dalam kajiannya, MSCI masih menyoroti sejumlah aspek investabilitas pasar Indonesia, terutama terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham.
Meski demikian, MSCI mengapresiasi berbagai reformasi yang telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Beberapa langkah yang mendapat perhatian positif antara lain peningkatan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%, implementasi kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan minimum free float menjadi 15 persen.
Namun, MSCI menegaskan konsistensi implementasi dan dampak jangka panjang reformasi tersebut masih menjadi faktor penentu. Apabila hingga MSCI Index Review November 2026 belum terlihat kemajuan yang memadai, MSCI membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk konsultasi terkait reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market (FM).
Dari sisi global, sentimen eksternal juga belum sepenuhnya mendukung. Wall Street ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya akibat aksi jual besar-besaran saham teknologi. Pelemahan sektor teknologi di Korea Selatan turut menekan sentimen pasar global, termasuk saham-saham semikonduktor dan tema kecerdasan buatan (AI).
Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik Timur Tengah memang mulai mereda seiring perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran.
Namun, pasar masih mencermati perkembangan program nuklir Iran yang dinilai berpotensi menjaga ketidakpastian global. Nafan mengatakan, secara teknikal IHSG masih berada dalam fase koreksi yang tergolong wajar.
“Secara teknikal pergerakan IHSG diproyeksikan masih dalam koreksi wajar selama berada di ‘wave (b)’, meskipun IHSG berhasil menguji garis MA20, dengan membentuk pin bar. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume,” kata Nafan.
Ia mengingatkan investor untuk tetap selektif di tengah volatilitas pasar. Menurutnya, strategi yang dapat diterapkan adalah fokus pada saham dengan fundamental yang solid, saham yang memiliki valuasi murah, serta saham yang mulai menunjukkan arah pembalikan tren.
Nafan juga menekankan pentingnya disiplin dalam menerapkan manajemen risiko di tengah ketidakpastian yang masih membayangi pasar, baik dari faktor domestik maupun global.
“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; Fokus pada saham bervaluasi murah; Fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” ungkapnya.
Pasar juga tengah mencermati perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Narasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) kembali menguat, bahkan sebagian pelaku pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve. Kondisi tersebut umumnya kurang menguntungkan bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.





