JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Wening Udasmoro meminta pemerintah memperluas jangkauan program beasiswa, agar lebih banyak lulusan SMA sederajat dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurut Wening, selama puluhan tahun angka lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi masih berkisar 30-35 persen setiap tahun.
"Sudah sejak lama, bertahun-tahun, berpuluh tahun, jumlah mahasiswa SMA yang masuk perguruan tinggi ini hanya sekitar 30 sampai 35 persen setiap tahunnya," ujar Wening, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI terkait evaluasi penerimaan mahasiswa baru, Rabu (24/6/2026).
Karena itu, dia menilai pemerintah perlu memperluas cakupan bantuan pendidikan agar angka partisipasi pendidikan tinggi terus meningkat.
Baca juga: Pembubaran Kopdar di UGM dan Jebakan Hiperpolitik
"Jadi, kalau menurut saya pemerintah mungkin perlu memperluas jangkauan beasiswa agar mahasiswa SMA yang masuk ke perguruan tinggi itu tidak hanya 30 sampai 35 persen, tapi bisa mungkin 50 sampai 60 persen," ujar Wening.
Wening menegaskan, perluasan beasiswa dapat membuka peluang bagi lebih banyak lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan, baik di perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta.
"Jadi, ini menjadi akan bisa menambah jumlah entah mereka itu nanti masuk perguruan tinggi negeri atau bisa masuk ke perguruan tinggi swasta," ucap dia.
Wening juga menyinggung distribusi penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) yang saat ini banyak berada di perguruan tinggi swasta.
Dia menyebutkan, data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menunjukkan sebanyak 55 persen penerima KIP Kuliah berada di kampus swasta.
Baca juga: Ahli UGM di Sidang MK: Hampir 70 Persen Dosen Bergaji di Bawah Upah Minimum
"Karena sampai saat ini mungkin Bapak Ibu juga sudah mendengar bahwa KIPK, eh KIPK ini justru banyak itu pada perguruan tinggi swasta, 55 persen. Itu laporan dari Dikti," kata Wening.
Selain mendorong perluasan beasiswa, Wening mengusulkan agar pemerintah meninjau ulang keberadaan perguruan tinggi asing yang beroperasi di Indonesia.
Menurut dia, pemerintah perlu mengevaluasi manfaat kehadiran kampus asing bagi pengembangan pendidikan tinggi di Tanah Air.
"Jadi, ini perlu meninjau ulang masuknya perguruan tinggi negeri eh perguruan tinggi dari luar negeri ke Indonesia. Ini semakin banyak, jadi perlu kita lihat bermanfaat tidak, perguruan tinggi luar negeri masuk ke Indonesia itu bagi Indonesia," tutur Wening.
Menurut dia, kampus asing kini semakin banyak hadir di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya.
Baca juga: Perjalanan Polemik Ijazah Jokowi: Dari Bareskrim, UGM, KIP, Berujung Penangkapan Roy Suryo
Untuk itu, dia berharap agar pemerintah lebih selektif dalam memberikan izin operasional kepada perguruan tinggi asing, agar mereka tak sekadar mencari keuntungan.
"Mungkin ini saya kira perlu diberi masukan agar tidak semua masuk. Pada kenyataannya, mungkin mereka ke sini hanya nyari uang, tidak membuat perguruan tinggi kita bertambah berdaya. Karena kita sendiri sebetulnya sudah sangat berdaya kalau kita maksimal melakukan," pungkas Wening.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




